Totalitas Sejarah Dalam Serial Harry Potter
Cerita Harry Potter tidak semata – mata menggambarkan kekuatan baik melawan kekuatan jahat atau malaikat melawan iblis. Namun dalam cerita yang terbagi menjadi tujuh jilid buku dan delapan episode filmnya, ada totalitas sejarah yang tersirat. Totalitas Sejarah tergambar dari perkembangan Harry Potter dan Voldemort dalam sudut pandang waktu, logika dan latar tempat.
Melalui serial ini, kita dapat menyaksikan perubahan fisik Harry Potter dari bocah polos yang terkagum kagum dengan keajaiban dunia sihir, hewan – hewan sihir yang eksotis, mantra gaib yang bisa merubah benda – benda pada jilid pertama (Harry Potter and Sorcer Stone) menjadi sosok pria dewasa muda pemberani yang gagah pada jilid-jilid berikutnya.
Di sisi lain, dalam serial ini pula kita dapat menyaksikan perkembangan Lord Voldemort yang pada awalnya berwujud sebagai roh tak bertubuh menjadi sosok berbadan utuh. Sama seperti Potter, Voldenmort juga memiliki bakat lahir sihir namun bedanya, bakat yang dimiliki Voldenmort — yang pada akhirnya ketahuan sebagai manifestasi pria muda bernama Tom Riddle[ Rowling, JK. Harry Potter dan Kamar Rahasia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2000] di serial ke dua (Harry Potter and The Chamber of Secret)—merupakan bakat sataniah dan Ia mengembangkan ilmu hitam. Antitesis Voldemort adalah Dumbledore, kepala sekolah Howgrats, yang digambarkan sebagai sosok baik seperti malaikat bagi Potter.
Pada buku pertama terdapat dua seting tempat yang berlawanan. yaitu sekolah Hogwarts yang merupakan represntasi dunia sihir ideal yang selalu terang dan penuh dengan kebaikan serta hutan terlarang yang gelap, berisikan mahluk- mahluk jahat serta tempat Lord Voldemort terlahir kembali sebagai mahluk bertubuh dengan meminum darah unicorn (mahluk mitologi berupa kuda bertanduk satu) dan meminum tetesan darah Harry Potter.[ Rowling, JK. Harry Potter dan Batu Bertuah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2000]
Namun dalam Harry Potter, JK Rowling juga memaparkan adanya beberapa struktur lembaga dalam dunia sihir yang mirip dengan dunia manusia. Yaitu keberadaan lembaga politik seperti kementrian sihir yang selalu campur tangan di dalam jalanya pendidikan sihir di Hogwarts. Struktur lembaga hukum, dengan dihadirkanya lembaga pemasyarakatan Azkaban dan pengadilan sihir. Serta, struktur sosial yang memperlihatkan kelas sosial tertinggi yang terdiri dari kaum borjuis dunia sihir yang diwakili oleh mereka yang berdarah murni. Yaitu penyihir yang tidak memiliki darah campuran dengan muggle.
Fasisme Voldemort Dalam Sudut Pandang Marxisme
Voldemort tidak hanya saja digambarkan sebagai sosok antagonis yang berhati iblis Ia juga memiliki ideologi yang menginginkan adanya dominasi darah murni di dalam dunia sihir. Obsesinya ini diwujudkan dengan dibuatnya organisasi pelahap maut (death eater) yang menumpas darah campuran dan penyihir yang menentang keinginan Voldemort. Cita cita pemurnian dunia sihir atau penyingkiran penyhir berdarah campuran dapat dikatakan sebagai analogi fasisme.
Menurut Trotsky dalam pamflet yang berjudul What is National Socialisme?, Fasisme hidup dalam masyarakat karena adanya konsepsi mengenai kingship ( keturunan/darah raja) yang terbentuk melalui proses sejarah. Konsepsi tersebut berasal dari banyaknya figure raja yang gemilang dalam kisah sejarah. Kingship adalah hasil olah pikir naïf dari masyarakat, yang melihat bahwa sifat kebangsawanan ada di dalam diri raja, di jubah dan mahkota dan di dalam darah dagingnya. Padahal raja menjadi raja adalah ketika masyarakat menginginkanya. Saat masyarakat mengalami perubahan, maka konsep kerajaan akan tersapu bersih dan menyisakan sosok raja yang lemah.
Trotsky menjelaskan kemudian, bahwa fasisme adalah kejadian historis yang dikondisikan. Fenomena yang berkembang dari koalisi kekuatan yang pada dasarnya bersebrangan, yaitu kekuatan kapitalisme dan kekuatan kelas pekerja. Ia lahir dari adanya krisis ekonomi. Untuk menghalau gejolak yang mematikan dari bawah, maka nasionalisme terpusat yang ada di dalam fasisme diperlukan sebagai bentuk sosialisme yang baru.
Pembentukan sosialisme baru tersebut justru di bangun oleh borjuis kecil (petite borjuis) yang memanfaatkan cita – cita sosialis kaum proletar. Menurut praktek ajaran marxisme, fasisme dianggap bertentangan dengan cita-cita sosial kelas pekerja. Sebab fasisme diciptakan oleh kelas borjuis dan mengeskpoitasi kelas pekerja juga. Sudah barang tentu, kekuatan pekerja yang dimobilisasi adalah pekerja yang merasa menjuadi korban keganasan eksploitasi kapitalisme. [ https: //www.marxist.org/Indonesia/archive/Trotsky/1944-Fasisme.html]
Saat cita – cita fasisme tercapai, kelas pekerja akan disingkirkan. Hal ini terjadi pada fasisme Italia tahun 1920an. Di mana setelah fasis menang atas pemerintahan sebelumnya, Fasisme di bawah Mussolini menjelma menjadi kekuatan borjuis yang menghancurkan kaum pekerja yang dahulunya menganggap, gerakan fasis mirip dengan gerakan kelas pekerja. Dapat dikatakan puncak perjuangan fasisme adalah terciptanya penguasaan kapital yang didukung oleh militer, senjata dan peluh pekerja.
Dalam kaitanya dengan Harry Potter, dapat dikatakan bahwa Voldemort dan pendukungnya merupakan sekelompok borjuis kecil yang ingin menciptkan dunia baru, yaitu dunia sihir yang terdiri dari penyihir berdarah murni. Dan untuk mencapainya diperlukan kekuatan fasis yang militant dan patuh buta pada pemimpinya, yaitu pelahap maut.
Hal tersebut dapat dibandingkan dengan Hitler dengan NAZI dan pasukan SS nya. Yang bercita-cita membangun masyarakat ideal Jerman yang terdiri dari ras Arya. Untuk mencapainya, NAZI dan SS melakukan serangkaian pembersihan etnis dan ekspansi untuk menyediakan ruang bagi bangsa Arya di masa depan. Bangsa Arya yang akan makmur di atas eksploitasi kaum Non Arya.
Yang menjadi pertanyaan besar mengenai fasisme dalam Harry Potter , apakah hal ini masih relevan dengan kehidupan modern? Jawabanya adalah iya. Sebab fasisme tidak hanya merupakan gambaran dari masyarakat bengis yang dipimpin oleh sosok psikopat seperti Hitler dengan NAZInya. Namun fasisme, sebagai paham yang memusatkan diri pada keunggulan bangsa dan memandang rendah pada bangsa diluarnya, juga hadir dalam bentuk bentuk lain di era modern ini. Ia hadir di tengah – tengah kita dalam diri prajurit yang dihina, didalam kepahitan hidup imigrat dan etnis minoritas serta hidup di dalam diri pembangkang yang masokis dan gila.
JK Rowling dalam karya fenomenal Harry Potternya, memang tidak memiliki tendensi politis. Ia hanya ingin menggambarkan dunia sihir yang berisikan keajaiban petualangan penyihir muda serta perang antara yang hak dengan yang batil. Dapat dikatakan konsepsi revolusi kaum proletar tidak ada di cerita Harry Potter karena sosok Harry Potter adalah sosok yang berasal dari kelas menengah atas, yang dapat menikimati keistimewaan. Bahkan ia digambarkan memiliki warisan kekayaan dari orangtuanya di bank sihir. Ia bukanlah anak miskin yang menuntut hak kelas pekerja karena ditindas kaum kapitalis.
Namun jika kita renungkan, JK Rowling ingin memperlihatkan pada pembaca betapa bahayanya cita – cita pemurnian ras yang digambarkanya dalam obsesi voldenmort untuk menciptakan masyarakat berdarah murni. Selain itu, sosok Harry Potter dapat dikatakan sebagai represntasi dari anggota kelas menengah atas ,yang melawan kelas borjuis picik karena Ia mempercayai bahwa setiap manusia sederajat, keunggulan bukan hanya berasal dari darah/keturunan namun dari usaha serta prestasi individu.
Harry Potter sebagai karya sastra dapat dikatakan tidak terpisah dari realitas zaman. Realitas yang menunjukan bahwa, di dalam masyarakat modern isu-isu perlawanan terhadap kengerian fasisme masih ada.
Penulis RR Mega Trianasari
Referensi:
Gregor, A.James. The Faces of Janus: Marxism and Fascism in Twemtieth Century. Yale University Press. 2004
Rowling, JK. Harry Potter dan Batu Bertuah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2000
Harry Potter dan Kamar Rahasia Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2002
McKenna, Tony. Art. Literature and Culture from a Marxist Perspective. Palgrave Macmillan. Hampshire: 2015
Neocleous, Mark. The Monstrous and The Dead: Burke, Marx, Fascism. University of Wales. Wales: 2005
https: //www.marxist.org/Indonesia/archive/Trotsky/1944-Fasisme.html

