Dewantara, Kota Serang, – Pada hari terakhir (21-7-2018) Kursus Sejarah Banten dan Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Sejarah Terintegrasi yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Sekolah Menengah Atas (SMA) Kabupaten Serang bekerja sama dengan MGMP Sejarah SMA Provinsi Banten, materi diisi oleh Hudaya Latuconsina dan Ismun Darjatiningsih.
Percaya Pada Kreativitas Guru
Hudaya Latuconsina yang buku terbarunya berjudul Kreativitas Pendobrak Belenggu (2017), selain memberikan materi tentang Sejarah Banten Kontemporer, juga berbagi tentang pengalamannya 9 tahun menjadi guru dan 7 tahun menjadi kepala sekolah. Hudaya menjelaskan “Menjadi leader itu jauh lebih penting daripada pemimpin. Karena leader adalah sifat kepemimpinan, sedangkan pemimpin adalah posisi atau jabatan. Sehingga tidak harus menjadi pemimpin dulu baru mempunyai sifat leader, jadi pada posisi apapun anda perlu memiliki sifat kepemimpinan atau leadership ini.”
Menghadapi zaman teknologi informasi yang berkembang pesat membutuhkan kreativitas. Hanya orang-orang yang kreatif yang mampu hidup pada era teknologi informasi atau juga yang sering disebut ‘Revolusi 4.0’. “Kalau dapat membuat hal yang baru alangkah bagusnya. Kalau belum bisa membuat hal yang baru maka perbaiki atau sempurnakan yang sudah ada. Perbaiki tampilannya, perbaiki prosedurnya.” kata Hudaya.
Hudaya menutup dengan bercerita, “Dulu saat saya sedang bersama Prof. Arif Rahman Hakim, beliau pernah bercerita tentang anak SD yang ingin mengetahui kenapa kacang kedelai dinamakan kacang kedelai dan kenapa kacang kedelai berbeda dengan kacang lainnya. Lalu guru SD memuji pertanyaan tersebut dengan berkata ‘pertanyaan kamu bagus, dan pertanyaan kamu akan mendapatkan jawaban yang benar ketika kamu masuk SMP’, lalu anak tersebut masuk SMP dan bertanya soal kacang kedelai dan guru di SMP memberikan jawaban yang ditambahkan kalimat ‘wah pertanyaan kamu cerdas sekali, di SMA ada pelajaran biologi yang lebih spesifik tentang tumbuhan, nanti kamu masuk jurusan IPA ya’, lalu di SMA guru bilogi kembali menambahkan dengan berkata ‘wah kajian lebih lanjut tentang kacang kedelai ada di universitas nak, kamu harus melanjutkan ya’. Dan akhirnya anak tersebut masuk IPB demi menjawab pertanyaan dan ketika bertanya kepada dosen maka dosen berkata ‘wah sulit juga ya nak, coba kamu teliti’. Akhirnya pas anak itu pusing mencari jawabannya ia bertemu pendeta, dan bertanyalah anak itu kepada pendeta perihal kenapa kacang kedelai berbeda dengan kacang lainnya, dan pendeta berkata ‘puji Tuhan pertanyaan kamu bagus sekali, jawaban kenapa kacang kedelai sebagaimana adanya adalah karena itu takdir.” Betapa jauh perjalanan seorang anak demi mencari jawaban atas pertanyaannya. Dan itulah fungsi guru juga dalam memotivasi peserta didiknya.
Mendidik Peserta Didik yang Memiliki Ketrampilan Abad 21
Pengawas SMA Dinas Pendidikan Provinsi Banten Ismun Darjatiningsih memberikan materi Model Pengembangan RPP (Rancangan Perencanaan Pembelajaran – red.). Ismun memberikan materi sambil berdialog dan membangun pemahaman bersama peserta guru, sehingga peserta guru dalam menyegarkan kembali pemahaman mereka tentang hakikat, kegunaan serta komponen-komponen dalam RPP.
Mengawali materinya Ismun menjelaskan, “Pembelajaran abad 21 menurut UNESCO meliputi pilar to know, to do, to be, dan to live together. Untuk pembelajaran di Indonesia ditambahkan satu lagi pilar, yaitu memperkuat keimanan, ketaqwaan serta akhlak mulia. Karena demikian dalam amanat UU Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003.” Dalam melengkapi kompetensi-kompetensi tersebut juga ada ketrampilan abad 21 yang meliputi ways of thinking, ways for working, tools for working, dan skills to live in the world.
Ismun melanjutkan, “Lalu pada akhirnya, ketika siswa-siswi kita lulus dari satuan pendidikan yang kita harus dapatkan adalah wajah-wajah mereka yang tersenyum. Dimana mereka dapat tersenyum karena ketika lulus mereka sudah memiliki kompetensi dengan bekal pengetahuannya, lalu mereka juga memiliki karakter, dan terakhir mereka menjadi generasi yang literat.” Adapun yang disebut sebagai generasi literat adalah peserta didik yang terinspirasi dan mampu merefleksi bacaan maupun peristiwa untuk menghidupkan nilai-nilai luhur.
Peran Strategis MGMP
Kegiatan Kursus Sejarah Banten dan Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Sejarah mendapatkan respon yang positif dari peserta guru. Sardi dari SMA Negeri 3 Kab. Tangerang mengatakan, “Kursus ini sangat berarti dan bermanfaat bagi kami untuk menambah pengetahuan. Terutama dalam kearifan lokal di Banten. Di MGMP kab. dan kota sudah sangat menanti. Nantinya informasi yang kami terima akan kami sebarkan dan kembangkan di kab.Tangerang.”
Ketika dewantara.co.id mewawancara Ketua MGMP Sejarah SMA Provinsi Banten Abdul Somad di sela-sela kegiatan, ia menyampaikan “Saya mengharapkan MGMP menjadi rumah bersama milik guru. Untuk kegiatan ini kami memberi kesempatan seluas-luasnya guru-guru sejarah di Provinsi Banten untuk mendaftar.” Selanjutnya, “kami juga menginginkan kegiatan-kegiatan (MGMP – red.) berdasarkan kebutuhan, bukan hanya berdasarkan proyek dari pemerintah. Jadi kami mencari tahu apa kebutuhan guru, seperti awal tahun ajaran misalnya RPP. Lebih luas lagi kegiatan juga bersifat kesejarahan, oleh sebab itu kami mengangkat sejarah lokal.”
Berbicara dengan Ismun Darjatiningsih, ia menyampaikan keterkaitan antara ketrampilan abad 21 peserta didik dengan kehadiran MGMP. “Karena MGMP sebagai wadah bagi guru. Sementara kita sebagai guru harus bisa memfasilitasi peserta didik untuk hidup di abad 21. Peserta didik yang mampu hidup abad 21 adalah yang memiliki ketrampilan, dan harus memiliki karakter, sesuai dengan 5 nilai utama karakter. Hal itu bisa di-share di MGMP.”

Lebih lanjut, Ismun menekankan, “Melalui MGMP, perkembangan potensi peserta didik untuk dapat cakap dan terampil hidup di abad 21 seyogyanya bisa terakomodir.”
Pembelajaran pada abad 21 harus dapat membuat peserta didiknya terinspirasi. Harus mampu membuat peserta didiknya mampu merefleksi diri. Dengan pengalaman yang berbeda antara satu guru dengan guru lainnya, maka kemampuan mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan abad 21 dapat dituangkan di MGMP. (AM)











