Dewantara, Bogor – Rektor IPB Dr Arif Satria mengklarifikasi pemberitaan yang menyebutkan pernah ada aliran sesat di kampus tersebut pada tahun 2000an. Arif menjelaskan, ia diwawancarai oleh sebuah media pada hari Minggu (3/6).
Menurutnya terjadi kesalahan pengutipan, dan kesalahan penulisan dalam berita yang menyebutkan dirinya menyatakan bahwa ada aliran sesat pada tahun 2000an.
“Saya tidak pernah mengatakan ada aliran sesat di IPB,” kata Arif kepada media, di Bogor, Selasa.
Menurut Mantan Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB ini, memang ada beberapa aliran yang dianggap oleh pihak luar sebagai aliran yang dianggap menjurus pada radikalisme, tetapi itu ada di masa lalu.
“Dalam berita tersebut, saya ditulis menyatakan bahwa ada aliran sesat pada tahun 2000 an. Padahal saya tidak pernah menyatakan ada aliran sesat,” katanya.
Tapi kini, lanjutnya, IPB sudah sangat kondusif, terus meningkatkan komunikasi dengan para mahasiswa, meningkatkan komunikasi dengan para dosen, dan pada aktivis mahasiswa.
“Karena saya kira aktivitas mahasiswa dan tenaga pendidikan, dosen itu punya komitmen yang sama untuk menjaga NKRI dan menjaga stabilitas kampus,” katanya.
Arif mengaku tidak rela jika kampus IPB distigma paham radikal. Saat ini banyak santri-santri di kampus, mahasiswanya memiliki religius yang tinggi.
Kondisi ini lanjutnya, perlu disyukuri sebagaimana amanah para orang tua untuk IPB mendidik anak-anaknya menjadi orang yang pintar, berakhlak mulia dan taat beragaman.
“Jadi ini bagus, mahasiswa IPB jadi religius dan nasionalis yang menjadi kekuatan IPB. Karena akhlak dan moral bangsa, akan ditentukan dari moral dan akhlak generasi mudanya,” katanya.
Arif menolak adanya stigmatisasi jika orang yang mengaji, beribadah, rajin ke masjid dianggap radikal. Hal tersebut membahayakan, membuat gaduh dan menciptakan sesuatu yang tidak kondusif.
“Karena akhlak itu bersumber dari agama,” katanya.
IPB, lanjutnya, semaksimal mungkin membuat situasi kondusif, sebagaimana tugas IPB adalah untuk menciptakan SDM yanb bagus, menghasilkan inovasi. Dan SDM yang bagus tersebut bisa memberikan kontribusi pada pembangunan.
“Jangan sampai upaya-upaya yang mulia ini diganggu dengan stigma-stigma yang tidak perlu diteruskan lagi,” kata Arif. (antara)









