“Tidak semua buku yang dibaca di ruang kelas punya pesan. Namun jika ada pesan sosial, maka sebagai guru mesti siap dengan diskusi-diskusi panjang dengan murid,” ucap Jon Biddle.
Dewantara, Jakarta. Tekanan bagi guru dan sekolah terhadap ujian dan mempersiapkan mereka ke jenjang lebih tinggi –misalnya dari SD ke SMP- acapkali membuat murid terlupa pada pelajaran-pelajaran kehidupan yang seharusnya mereka terima.
Jon Biddle, seorang guru sekolah dasar Moorlands di Norfolk, Virginia, AS, sedang mengerjakan proposal penelitian mengenai pengungsi untuk diajukan ke EmpathyLab. Proyek EmpathyLab mengeksplorasi problem sosial seperti persahabatan, kesendirian, perundungan, pengungsi dan tunawisma yang berkorelasi terhadap murid dan pendidikan. Awalnya ia berpendapat bahwa pengungsi berada di ruang berbeda dengan mereka. Sekarang ia mendapati bahwa para pengungsi dan kita tidaklah berbeda karena berpijak di bumi yang sama. Bagaimana kemudian kita bisa menjadi bagian didalamnya.
Dikutip Guardian (1/07/2018), Jon percaya bahwa untuk mengembangkan pemahaman murid adalah dengan bercerita. Baru setelah English Conference 2015, Jon berkenalan dengan Miranda McKearney dari perusahaan Reading Agency. Dibahaslah penelitian Maria Nikolajeva dari Universitas Cambridge tentang penggunaan cerita fiksi (novel, cerpen, puisi) sebagai medium kesadaran empati bagi murid.
Sebagai permulaan di kelas, Jon menggunakan novel Boy Overboard karangan Morris Gleitzman dan Welcome to Nowhere dari Elizabeth Laird. Dampak dari cerita novel tersebut tehadap murid sangat mencengangkan. Peserta didik langsung membahas hal tersebut pada orang tuanya pada kesempatan pertama. Seketika itu juga besoknya, para murid menginginkan rapat untuk membuat cara bagaimana menolong para pengungsi Suriah. Mereka tidak memperhatikan hal tersebut di berita, akan tetapi ketika dibahas di kelas dan dihubungkan dengan cerita fiksi yang dibawakan empati mereka tergugah.
Sekolah kemudian mengundang pembicara dari Amnesty International mengenai kondisi terkini dari pengungsi perang, terutama sekali nasib anak-anak yang putus sekolah. Tiap murid menulis surat berisi harapan dan semangat kepada anak-anak pengungsi Suriah sebagai isyarat dukungan dan empati. Tidak hanya surat, anak-anak tersebut berinisiatif menyumbangkan barang-barang kebutuhan di pengungsian seperti kasur dan selimut. Karena teknis pengiriman, para murid hanya diperbolehkan menyumbang maksimal lima barang saja.
Mendengarkan langsung dari pegiat sosial pengungsi itu membuat anak-anak memperoleh pengalaman yang unik dan merubah cara hidup mereka. Jika hanya diceritakan dan melalui selebaran, para murid mungkin akan berdonasi uang saja. Hal yang mana merupakan bentuk simpati ketimbang empati.
Minat terhadap sastra meningkat dan turut meningkatkan pengayaan bahasa dan kemampuan tata bahasa para murid. Bagi Jon, surat-surat murid yang dikirim melalui Amnesty International adalah kepingan berlian dari karya murid-muridnya. Memberikan dampak yang nyata untuk ukuran anak seusia sekolah dasar. Jon pun terhenyak melihat kenyataan bahwa empati bisa diajarkan secara terbuka dan langsung kepada para murid. “Seorang murid berkata ia telah lama memiliki perasaan itu. Ia baru tahu bahwa namanya adalah empati,” kenangnya.

Kini, sekolah beranjak pada proyek selanjutnya: Kesendirian. Ini berkaitan dengan veteran dan lansia yang hidup dalam kesunyian di panti jompo. Novel yang ia bawakan Old Woman Who Named Things karya Cynthia Rylant.
Proyek EmpathyLab membuat Jon mesti memilih dengan cermat bahan bacaan apa yang pas untuk dibawakan ke ruang kelas. Setelahnya, guru dan orang tua harus siap dengan diskusi bahan-bahan pelajaran kehidupan dengan murid. Seorang orang tua murid pernah berujar, “Saya suka cara Anda mengajarkan tentang dunia yang luas dan bagaimana mereka bisa berperan terhadap hal tersebut, tidak hanya mempersiapkan mereka untuk SAT (ujian kelulusan) saja.”









