Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Dari Anda

Politik Pendidikan Ki Hajar Dewantara

dewantara.id by dewantara.id
March 19, 2020
in Dari Anda, Komunitas
0
32
SHARES
1.7k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Visi pendidikan KHD sangat mulia, saat ini cita-citanya dilupakan, banyak ditinggalkan para penerus bangsa. Taman Pembelajar Rawamangun (TPR) kembali menggelar diskusi Kelas Membaca Ki Hajar Dewantara (KHD) pertemuan ke-7 pada Sabtu, 14 Maret di Kedai Candlestick Rawamangun.


Kali ini, tema yang diangkat adalah “Politik Pendidikan” yang termuat di dalam kumpulan tulisan KHD Bagian I Pendidikan. Dengan pembedah yaitu pegiat Pedagogik Hendro Rahmandhani, Pengajar Sejarah SMA Diponegoro 1 Rawamangun Muhamad Zulkarnain dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Anggi Afriansyah.

Membuka pembicaraan, Zulkarnain mengatakan ada tiga hal yang diajukan KHD dalam membuat arah baru sistem pendidikan nasional. Pertama, menurutnya, pengajaran berupaya mendorong bangsa Indonesia dapat memiliki banyak pengetahuan/kepandaian umum. Kedua, anggaran pendidikan mesti menjadi prioritas utama suatu Negara. Ketiga, sistem pendidikan mesti menjunjung semangat ketimuran yang berasas pada keluhuran budi, nilai kebatinan/mental kultur, kecerdasan pekerti, dan berasas kekeluargaan. “Sistem pendidikan yang diarahkan KHD berdasarkan semangat kebudayaan yang cenderung menjauhkan sikap individualisme,” jelas Zulkarnain.

Berfoto bersama usai kelas membaca KHD yang ketujuh. (Dok. TPR)

Lebih lanjut, dia juga mengatakan bahwa ada sifat khusus dari kebudayaan yang harus selalu dilibatkan dan diutamakan dalam hal pendidikan dan pengajaran. “Sifat khusus yang dimaksud adalah sifat kebangsaan dari kebudayaan itu sendiri. Pendidikan merupakan bagian konstitusional dari kebudayaan dan bukan sebaliknya. Sebab proses pendidikan ialah mentransmisikan nilai-nilai, sedangkan kebudayaan adalah juga nilai-nilai tersebut dan ide vital yang kita hayati sehari-hari,” ujarnya dengan semangat.

Penekanannya pada kebudayaan tidak berarti KHD melupakan pendidikan yang bersifat keahlian. Menurut Hendro, selain ada sekolah tinggi kesusastraan, ada pula sekolah rakyat bagi yang tidak bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi. “ada sekolah masyarakat yang lebih ke kejuruan/vokasi. Di masa itu sudah sevisioner itu. Udah keren banget. Sekolah berdasar vokasi bukan barang baru. Faktanya, ada gagasan KHD pada masa itu tahun 1920-an. ” ujar Hendro Akan tetapi, menurut alumnus UNJ Jurusan Bahasa Arab tersebut, sistem vokasi yang dibangun dan digagas KHD bertujuan untuk membangun perekonomian rakyat kecil. “Sekarang pemerintah bikin vokasi untuk kepentingan pengusaha. Bukan rakyat. Cita-cita yang bertentangan dengan keinginan KHD,” ucapnya penuh sesal.

Sementara itu, Anggi yang mengaku senang diundang sebagai pembicara kali ini, juga kagum terhadap sosok KHD. “Integritasnya luar biasa. Dia (KHD) bisa saja menjadi pejabat di Belanda, tapi dia memilih berjuang dan hidup sederhana,” ucapnya.

Dia pun melihat bahwa KHD sosok yang terlupakan.. “Jarang ya yang bicara Ki Hajar sekarang. Itu juga taunya hanya Tut Wuri Handayani saja,” katanya. Itu disebabkan, kata dia, cita-cita KHD ditinggalkan oleh bangsa Indonesia, khususnya pemerintah. “Kalah narasi Ki Hajar di negeri ini soal pendidikan kebudayaan. Selain itu, masa KHD menjadi menteri sangat pendek,” ujarnya menambahkan.

Dalam paparannya, Anggi menggarisbawahi ada enam bagian penting dari 39 tulisan KHD bagian I Pendidikan. “KHD sangat visioner bicara pendidikan. Musuhnya sama aja bagaimana membangun pendidikan apakah cuma untuk kerja saja, link and match?,” ucapnya.

Menurut dia, gagasan pendidikan KHD justru berangkat pada pendidikan kolonial yang mengecewakan. Karena pendidikan yang dihasilkan membuat rakyat tercerabut dari kehidupan sosialnya. “Itu yang sekarang, KHD menganjurkan pendidikan nilai kultural. Itu sangat penting. Saya yakin (Indonesia) akan sangat maju. Apalagi otonomi daerah sekarang,” katanya. “Meskipun pejabat daerah ketika ditanya soal pendidikan hanya bicara soal BOS (Bantuan Operasional Sekolah) tapi tidak tahu visi pendidikan daerahnya apa.”

Sebagai periset, Anggi kerap menemukan di lapangan program pendidikan pemerintah jauh panggang dari api. “Saya banyak menemukan SMK Kelautan di Yogyakarta yang lulusannya justru menganggur atau jadi sekuriti. Karena ketika sekolah ternyata yang lebih kental dididik secara militer,” ujarnya.

Sehingga, dia berani menyimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia tanpa tujuan. “Pragmatik enggak, apalagi filosofis,” ucapnya. Upaya memperbaiki pendidikan menurut Anggi memang tidak sederhana. Dia mencontohkan Finlandia yang saat ini sebagai negara yang kualitas pendidikannya sangat baik. “Di sana selain pendidikannya, sistem sosial atau jaminan sosialnya juga diperbaiki. Pendidikan, kesehatan dan transportasi murah,” pungkasnya.

(IG/Editor)

Tags: kebudayaanKi Hajar Dewantarakomunitaspendidikanpolitik pendidikan
Tweet8Share13Share3Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Travel Writing sebagai Sumber Informasi Perjalanan

Travel Writing sebagai Sumber Informasi Perjalanan

July 8, 2024
Menjelajahi Keindahan Jawa-Bali: Panduan Komprehensif untuk Wisata Overland

Menjelajahi Keindahan Jawa-Bali: Panduan Komprehensif untuk Wisata Overland

July 8, 2024
JURNAL REFLEKSI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

JURNAL REFLEKSI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

May 2, 2024
Pentingnya Perubahan Kurikulum

Pentingnya Perubahan Kurikulum

January 19, 2024
Sosialisasi kepada POKDARWIS Pulau Harapan: Pentingnya Sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi

Sosialisasi kepada POKDARWIS Pulau Harapan: Pentingnya Sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi

December 21, 2023
Kayak Orang Freak

Kayak Orang Freak

November 22, 2023
Menjadi Multitalenta

Menjadi Multitalenta

November 22, 2023
Sejarawan Taufik Abdullah (2-selesai)

Sejarawan Taufik Abdullah (2-selesai)

January 15, 2021
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

October 6, 2025
LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

August 31, 2025

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version