Ada satu orang panglima perang yang pernah menyerang jantung Kekaisaran Romawi. Namanya melegenda, lalu kebudayaan barat mendokumentasikannya, studio di hollywood memakai namanya sebagai tokoh pembunuh kejam dalam film silence of the lamb. Namanya adalah Hannibal Barca.
Sejarah dunia telah mencatat Kekaisaran Romawi (27 SM-476 M) sebagai salah satu kerajaan terbesar di dunia, dan Kekaisaran Romawi juga telah tercatat sebagai kerajaan Kristen yang pernah ada di Eropa. Kekuasaan Romawi menyebar di seantero Italia, Prussia, Teluk Balkan, Spanyol, Inggris, dan Afrika Utara.
Ketika berbentuk Republik (509-27 SM), Romawi sedang berusaha melebarkan kekuasaannya ke Pulau Korsica, Spanyol, dan pesisir Afrika Utara. Romawi berusaha merebut wilayah-wilayah tersebut dengan kekuatan tenaga manusia (tentara) maupun kekuatan persenjataan mereka. Para panglima perang Romawi terkenal karena kekuatan strategi mereka yang cemerlang.
Kekuasaan Romawi begitu tangguh dan membuat suku-suku di Eropa banyak sekali yang pada akhirnya bertekuk lutut. Wilayah suku-suku tersebut dikuasai dan banyak penduduk dari suku-suku yang ditaklukkan dijadikan budak. Para budak ini dapat dierjualbelikan, dapat juga dijadikan pekerja pada proyek-proyek yang sedang dikerjakan oleh Kerajaan Romawi. Kita mengetahui bahwa tambang emas dan windmill menggunakan ratusan sampai ribuan tenaga budak. Keberadaan budak secara langsung telah menjadi aset maupun properti yang sangat menguntungkan bagi Romawi.
Strategi Hannibal
Tapi, bahkan ketakutan suku-suku di Eropa dan pesisir Afrika Utara tidak dapat memdamkan semangat perlawanan terhadap penaklukkan Romawi. Dari Kartago, muncul seorang panglima perang yang akan membawa perang bukan di sudut-sudut benua Eropa, Asia, atau pesisir Afrika Utara namun panglima perang dari Kartago itu akan membawa perang ke ‘pekarangan’ Kerajaan Romawi.
Seorang kapten bernama Hannnibal Barca akan memimpin puluhan ribu pasukannya melawan puluhan ribu pasukan Romawi. Hannibal berpikir bahwa kalau melawan Romawi hanya di Spanyol, itu hanya sekedar melawan ‘lengan’ Romawi.
Oleh Romawi, pasukan yang dipimpin oleh Hannibal disebut pasukan barbar. Suatu penggunaan kata yang sangat tendesius dan merendahkan, yang digunakan oleh bangsa Romawi untuk menyebut kaum yang menolak untuk tunduk dan dikuasai oleh Romawi.
Suku-suku yang tergabung dalam pasukan barbar terdiri dari suku Gaull, Gallic, Insubres, dan Boii. Dari suku Gaull dan Gallic, Hannibal membutuhkan jalur aman dari Pegunungan Alpen menuju Lembah Po di Italia. Sedangkan untuk Insurbes dan Boii, mereka memang merasa terjajah oleh Romawi. Suku-suku tersebut juga mengirimkan sebagian kekuatan pasukan mereka untuk bergabung dengan Hannibal.
Hannibal memiliki visi yang sangat kuat, bahwa dengan menyerang Romawi langsung ke Kota Roma, Italia akan menghancurkan kekuatan dan semangat pasukan Romawi. Maka dari itu Hannibal bersikeras menyebrangi Pegunungan Alpen dan masuk ke Italia. Pada tahun 218 SM pasukan Hannibal, termasuk beberapa pasukan gajah.

Perjuangan pasukan yang dipimpin Hannibal dalam menyeberangi Pegunungan Alpen sangat berat. Mereka harus membawa tubuh, lengkap dengan perlegkapan perang menyeberangi medan medan dingin dan berangin kencang.
Pada saat pasukannya berhasil melewati Pegunungan Alpen dan bersiap menghadapi pasukan Romawi yang menghadap di Cannea, Hannibal berkata “Kita sudah mengalahkan diri kita, kelelahan kita. Kita juga sudah mengalahkan Pegunungan Alpen. Dan semua menuju pada momen saat ini. Tidak ada pengejaran lagi, tidak ada perjalanan lagi. Semuanya berakhir saat ini.”

Pada pertempuran Cannea (tahun 216 SM), pasukan ‘Barbar’ Hannibal berhasil mengalahkan pasukan Romawi. Romawi kehilangan 60.000 pasukannya yang tewas, dan pasukan ‘Barbar’ kehilangan 6.000 pasukannya yang tewas.
Kemunculan Jendral Scipio, Pembela Romawi.
Lawan Hannibal dari pihak Romawi adalah Scipio. Seorang jendral yang jeli dan sangat percaya diri, serta sangat percaya pada kekuatan pasukan Romawi.
Romawi terguncang dengan kekalahan pada pertempuran Cannea. Begitu terguncangnya sampai perlu menyusun sejumlah kesepakatan dengan kaum ‘Barbar’. Scipio mengecam tindakan ketua Senat yang telah merumuskan kesepakatan dengan kaum ‘Barbar’’, Scipio menuding serta memandang rendah bahwa kesepakatan tersebut merupakan bentuk “menyerah” Romawi terhadap Hannibal.
Scipio tidak puas dan kemudian berpikir untuk mengalahkan pasukan ‘Barbar’. Ide yang kemudian dijalankan oleh Scipio pada perkembangan selanjutnya mengubah arah perang.
Scipio memutuskan untuk menggunakan taktik yang sebelumnya digunakan Hannibal, yaitu dengan menyerang langsung kekuatan Kartago, langsung di tempat asalnya. Scipio menyiapkan tentaranya, lalu berlayar menyusuri laut, untuk kemudian mendaratkan pasukannya di pesisir pantai Afrika Utara. Menyadari pergerakan pasukan Romawi yang akan menyerang langsung Kartago, maka pasukan yang dipimpin oleh Hannibal melakukan pengejaran ke arah pesisir Afrika Utara.

Militer Romawi punya kemampuan luar biasa untuk belajar dari pertempuran, bahkan kekalahan. Di dalam pertempuran Zama (tahun 202 SM), akhirnya Hannibal menderita kekalahan pertama – dan satu-satunya – yang pernah dia derita. Kekalahan di Zama tersebut membuatnya terguncang, dan lalu mundur dari pemimpin pasukan.
Walau tidak lagi memimpin pasukan, Bangsa Romawi masih menganggap bahwa Hannibal selalu menjadi ancaman bagi keberadaan Kerajaan Romawi. Oleh sebab itu, Romawi meminta Kartago menyerahkan Hannibal. Namun Hannibal masih disegani oleh kawan maupun lawan, ia lalu memilih mengasingkan diri. Pada tahun 183 SM Hannibal memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
(Sumber: Barbarian Rising , History Channel)
Ahmad Muttaqin











