Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Opini

4 Tips Mengatasi Kecanduan Gawai Pada Anak

dewantara.id by dewantara.id
July 28, 2018
in Opini, Praktisi
0
4 Tips Mengatasi Kecanduan Gawai Pada Anak

sumber: saliha.id

32
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Teknologi internet telah merambah kehidupan masyarakat, termasuk di Indonesia. Lima tahun belakangan ini fenomena yang mencuat adalah maraknya penggunaan gawai (gadget). Melalui rilis Kementrian Komunikasi dan Informasi yang menggunakan riset  lembaga Emarketer, dari 250 juta jiwa penduduk, pengguna aktif internet di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Namun kita mulai melihat dampak negatif dari penggunaan gawai yang tersambung internet, yaitu kecanduan gawai pada anak.

Rentang umur paling rentan dalam mengalami kecanduan gawai adalah 9-19 tahun. Berikut 4 tips mengatasi kecanduan gawai pada anak.

Batasi Waktu Penggunaan Gawai

Bagi anak-anak yang telah memasuki usia sekolah, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) perlu diberi batasan hari-hari mereka menggunakan gawai. Setelah anak-anak pulang sekolah, lebih baik anak berinteraksi dengan anggota keluarga, seperti orang tua dan kakak-adik di rumah.

Dari segi hari, dalam seminggu orang tua dapat membatasi jumlah hari sang anak menggunakan gawai. Dalam 7 hari, bisa saja hari boleh menggunakan gawai dibatasi menjadi hanya 3-4 hari. Hal itu dilakukan supaya fokus anak terhadap tanggungjawabnya, terutama aktivitas belajar akademik maupun kegiatan keagamaan sehari-hari-, dapat terlaksana. Untuk harinya apa saja, itu dapat disepakati dengan anak yang bersangkutan.

Melissa Karim, Ralph Tampubolon, dan anak mereka Lucius Jazz. Melissa yang juga penyiar program Sarapan Seru Jak 101 FM membatasi waktu bemain gawai Jazz hanya 3 hari dalam seminggu. sumber gambar: tabloidbo.com

Dari segi waktu atau jam per hari, itu juga perlu dibatasi. Berdasarkan penelitian toleransi penggunaan gawai per hari yang dapat ditoleransi adalah total 3 jam dalam sehari. Penggunaan gawai di atas 3 jam akan menimbulkan dampak negatif. Organ yang paling pertama kena dampak negatif adalah mata. Organ selanjutnya yang menderita adalah lambung, apabila si anak sampai lupa atau kurang asupan makanan.

Pada taraf ektrem, kecanduan gawai dapat menyerang otak karena akan menyerang bagian cortex tertentu. Bagian cortex yang mengalami kelainan adalah prefrontal cortex, sama seperti kelainan pada pengguna obat-obatan terlarang.

Bangun Hubungan Sosial

Hubungan sosial merupakan salah satu hubungan alamiah yang dialami oleh anak ketika ia mulai berkakivitas di sekolah maupun lingkungan. Dalam kajian sosialisasi, teman sepermainan merupakan salah satu dari agen sosialisasi.

Ketika pulang sekolah, pada tinggkat SD antara pukul 14.00 sampai 16.00, anak-anak masih punya waktu bermain di lingkungan rumah. Saat itulah mereka punya waktu bermain bersama teman-temannya, kadang bermain di salah satu rumah temannya, kadang bermain di taman. Saat itu mereka akan menjalin komunikasi dan hubungan dengan teman-teman seumurannya. Dan yang juga penting, saat itulah mereka lupa terhadap gawai pribadi mereka masing-masing.

Perbanyak Aktivitas Fisik

Ada banyak aktivitas maupun permainan yang melibatkan kegiatan fisik. Pada anak-anak pra-sekolah, tubuh orang tua adalah sarana bermain paling baik. Anak-anak balita sangat senang bermain dan menggelayut pada tubuh orang tuanya. Pada anak-anak usia SD aktivitas fisik mereka dapat berupa bersepeda, berkemah atau main masak-masakan, berolah raga sepak bola atau basket. Semua itu dapat dilakukan di pekarangan rumah atau sambil menggelar tikar di taman atau halaman masjid/mushala.

Sekolah-sekolah juga menyediakan ekstra kurikuler (ekskul) yang melibatkan aktivitas berpikir dan berkreativitas. Saat ini ada Pramuka yang telah ditetapkan pemerintah sebagai ekskul wajib pada setiap jenjang sekolah. Ekskul Pramuka biasanya menggelar kegiatan secara rutin dn berkala, misal Masa Orientasi Pramuka (MOP) setahun sekali, maupun ekskul rutin satu minggu sekali pada hari Jumat (pada sekolah 5 hari belajar) dan Sabtu (pada sekolah 6 hari belajar). Selain itu ada juga ekskul bela diri seperti pencak silat, karate, dan taekwondo. Pada jenjang SMP dan SMA ada juga ekskul Paskibra, Palang Merah Remaja (PMR), dan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Dengan melibatkan kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan pikiran, sikap, maupun gerak fisik dari anak, kita dapat mengharapkan anak-anak kita tumbuh lebih terampil dan kolaboratif.

Kelompok mendongeng di Pesta Baca Anak Pesisir yang banyak sekali peminatnya. sumber foto : zakyzahra-tuga.blogspot.com

Orang Tua Memberikan Contoh

Kita sering mendengar bahwa anak-anak usia belia bagaikan sponge. Mereka menyerap apapun yang ada di sekitar mereka, dari pengetahuan, penggunaan bahasa, sampai ke perilaku pun mereka tiru. Oleh sebab itu orang-orang terdekat berperan mewarnai karakter anak-anak itu.

Orang tua banyak mencontohkan cara makan yang benar, cara berbicara yang baik dan sopan, tata cara beribadah yang benar, serta cara berpakaian yang mengikuti norma-norma yang berlaku. Namun yang terkadang sering lupa, kebiasaan-kebiasaan “buruk” juga sering dicontohkan orang tua. Salah satunya adalah seringnya orang tua bermain gawai ketika ada kegiatan bersama keluarga di rumah maupun di luar rumah.

gambaran orang tua yang sibuk main gawai sendiri. sumber foto: klikdokter.com

Orang tua sering menampilkan adegan bermain gawai ketika sedang makan bersama. Orang tua juga terkadang masih sempat menggunakan gawai ketika sedang membimbing anaknya belajar, maupun ketika mau tidur atau bahkan sampai ke kamar mandi.

Pada akhirnya kita sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak. Tantangan mendidik anak-anak pada zaman now cukup berbeda dengan cara orang tua kita mendidik kita (orang tua pada saat ini) dulu di era 1990-an. Kita harus lebih mawas diri dan menjaga anak-anak kita dari efek negatif gawai. Itulah salah satu “medan perang” kita sebagai orang tua.

 

Ahmad Muttaqin, M.Pd

Guru SMA Negeri 3 Cilegon, Praktisi Pendidikan, Orang Tua

Tags: anakGawaiKecanduan GawaiOrang Tua
Tweet8Share13Share3Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Pentingnya Perubahan Kurikulum

Pentingnya Perubahan Kurikulum

January 19, 2024
Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

September 3, 2023
R.A. Kartini: Simbol Perempuan Priyayi-Jawa Yang Tercerahkan

CATATAN PEREMPUAN ATAS REFLEKSI 21 APRIL

April 20, 2023
NATO Climate Change and Security Action Plan :  Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

NATO Climate Change and Security Action Plan : Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

October 26, 2021

Relasi Guru dan Murid Berbasis Kesetaraan

August 25, 2020
WFH dan Komitmen

WFH dan Komitmen

June 28, 2020

Kegagalan Bahasa Indonesia Berkomunikasi dengan Rakyat Indonesia

April 19, 2020
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

October 6, 2025
LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

August 31, 2025

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version