Ini cerita sepuluh tahun lalu. Saya mendapat kesempatan belajar sekaligus juga mengajar di sekolah Menengah Atas Diponegoro 1 Rawamangun. Ada semacam perasaan terberkati muncul, tiap kali membayangkan dinamika selama tujuh tahun di sana.
Tidak ada niat sombong, sok-sokan, atau riya dengan pengalaman yang tak ada seujung kuku untuk membagikan cerita yang berkaitan dengan dinamika profesi saya saat ini. Saya cukup tahu diri. Paling tidak saya pun berhak punya harapan dengan kisah hidup sendiri. Barangkali bisa bermanfaat, syukur-syukur mendorong letupan kecil pada diri pembaca untuk melakukan banyak kebaikan untuk sesama. Semoga.
Melamar
Para hadirin pembaca yang budiman, izinkan saya untuk flashback sekitar 10 tahun yang lalu. Pertengahan tahun 2016 dimana saya pertama kali diterima mengajar di sekolah tersebut. setelah dipikir-pikir, tak ada yang cukup istimewa selain kesempatan itu sendiri. Semuanya mengalir. Mirip seperti prosedur kebanyakan pelamar kerja, saya pun melaluinya. Membawa CV, memberikannya pada bagian HRD, mengikuti tes mengajar, tes potensi akademik dan beberapa uji soft skill lain. Berikutnya setelah wawancara, alhamdulillah saya diterima.
Refleksi
Kadang perjalanan seringkali mampu merubah seseorang. Tak peduli sejauh dan sebanyak apa tempat yang telah dikunjungi. Untuk singgah sementara atau hanya sekedar lewat. Makanya setelah singgah dan melanjutkan perjalanan ke titik lain yang entah dimana, seyogyanya, perlu juga kita mencoba sesekali melakukan refleksi. Untuk laki-laki dewasa, entah kenapa biasanya terjadi di malam hari. Ketika sendiri dan relatif santai, menikmati rokok, kopi dan angin malam di depan rumah;
Semacam laku menelisik ulang batin. mungkin juga sekedar permakluman atas segala kelemahan dan khilaf. Seraya mencoba selalu percaya akan niat dan harapan baru. Bersabar ada banyak kebaikan hadir, kelak.
Perempuan pun juga saya yakin demikian. Sebagai manusia, memikirkan kembali apa yang sudah dilalui, secara auto pilot seringkali terjadi. bagi saya, syukurnya paling tidak memberikan secuil kesadaran bahwa profesi ini bukan cuma sekedar mencari uang saja. Bahwa idealnya, guru itu sosok yang diteladani. Tidak hanya dalam bertindak, tapi juga dalam berpikir.
Tentu saja tak mudah. Apalagi profesi itu menempel sepanjang hayat pada identitas. Namun setidaknya saya berupaya. Apalagi sewaktu flashback, ternyata ada cukup banyak oase di sekolah ini yang memantik banyak hal positif bagi saya. Misal tentang kekuatan harapan terlebih kesabaran serta pentingnya keikhlasan.
Harapan
Dan di profesi ini, bicara harapan bagi saya sederhana saja;
Mereka, anak-anak itu..
Yang bangun pagi mendahului sang fajar, mengendong tas di punggungnya,
Yang memacu kendaraannya sendiri atau via ojek, diantar Bapak, Ibu atau Saudaranya..
Yang menapaki Jalan Pemuda, Rawamangun Muka, sampai Sunan Giri hampir tiap hari, dimampukan untuk istiqomah dalam proses,
Menjadi manusia yang bermanfaat
Bagi sesama.
Yang saya yakin, anak-anak itu punya bekal (potensi) tersebut. Termasuk saya dan juga Anda. Oleh karenanya dalam keadaan tertentu, antara saya dan anak didik hakikatnya tidak berbeda. Bahwa kami sama-sama sedang belajar.
Saling mengisi,
Saling bercerita,
Saling memahami,
Sangat mungkin berkonflik
Dan dibenturkan keadaan,
Baik di alam pikir, sanubari,
Hingga menjelma nyata.
Seperti cerita saya sendiri. Murid yang kesal, muncul bercerita di media sosial, lengkap dengan diksi kemarahan, bahasa kotor dan mencaci. Disini kedewasaan seringkali diuji. Berupaya cukup tahu diri seringkali jadi strategi batin yang memaklumi banyak kelemahan manusia. Seraya mengukur dan menghitung-hitung, saya yang sebagai guru sebenarnya juga manusia biasa.
Makanya, terpujilah para murid yang semenjak dini sudah dilatih untuk berpikiran dan berprasangka baik. Termasuk kepada gurunya; saya yang serba kurang ini. Yang dengan segala yang didapat dan diserap, memang benar adanya, guru haruslah pandai-pandai bersyukur. bagi saya itu strategi batin yang harus selalu dilatih secara sadar. Sampai terbiasa dengan sendirinya.
Guratan
Memang, disadari atau tidak kadang guru diuntungkan oleh stigma dan keadaan. Serupa aforisme feodal yang kadang muncul begitu saja_yang perlahan semakin terkikis_Bahwa guru harus selalu dijunjung tinggi ucapannya_Bahwa guru disekolah penerjemah kebenaran hakiki. Patuh, taat, taklid butalah padanya.
Atas hal yang demikianlah, kadang saya semampunya memposisikan diri untuk tidak menjadi feodal, kaku dan anti terhadap kesalahan. Mungkin juga berhati-hati dan cermat melihat tanda-tanda zaman dan kultur generasi paling baru.
Mencoba setara tanpa harus kehilangan ruang untuk saling menghormati identitas masing-masing. Seraya Istiqomah dalam mendidik karakter murid. Mempertebal potensi baik atau menghalau potensi buruk yang pasti datang. Diumpamakan berupa guratan-guratan tipis pada diri anak. Sebuah bekal fitrah yang diberikan sejak awal kehidupan bermula.
Perihal guratan tersebut, bolehlah sedikit saya urai, dimana menurut Ki Hadjar semenjak lahir anak bukanlah kertas kosong, melainkan sebuah kertas dengan guratan-guratan potensi. Ada yang jelas dan ada yang nyaris tak terlihat. Tugas pendidikan pada dasarnya adalah juga memperjelas potensi fitrah tersebut. Naluri baik dipertebal, sedangkan yang membawa pada keburukan dikikis sampai nyaris hilang. Tak berdaya.
“Pendidikan adalah juga segala pemeliharaan lahir dan batin pada anak-anak untuk dapat memajukan hidupnya lahir atau jasmani dan batin atau rohani.”
(Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan, Hal: 436)
Kesempatan
Di sekolah ini, entah kenapa selalu banyak hal yang ingin dipelajari. Pada waktu itu, sekolah kami mulai mencoba memposisikan diri untuk mampu berjalan seiring dengan dinamika dunia pendidikan paling baru. Misal adopsi teknologi nirkabel dalam ruang kelas virtual via alat (tablet) belajar.
Tentunya tanpa melupakan bahwa guru juga harus punya bekal keilmuan pedagogik yang baik. Lagipula yang namanya alat, bagaimana penggunanya. Sebagaimana pisau bisa menjadi alat yang destruktif namun bisa juga menjadi alat penyempurna kehidupan lahiriah.
Dan bicara ekosistem, di sekolah ini komposisi rekan sejawat saya nyaris sempurna. Ada yang muda penuh semangat, ada pula yang tua memberi nasihat dan pengayoman. Tentu saja dengan komposisi yang demikian, level adaptasinya kadang cukup tinggi. Diperlukan kepemimpinan yang kuat visinya. Apalagi menghadapi guru macam saya. Yang banyak kurangnya ketimbang lebihnya.
Untuk yang satu itu, sekali lagi saya merasa terberkati. Dengan kepemimpinan Kepala Sekolah yang cukup memberikan ruang untuk berkembang, berbuat kesalahan atau sekedar khilaf. Hal-hal yang semula tidak pernah saya dapatkan di tempat lain, nyatanya bisa saya dapatkan disini. Yaitu kesempatan dan kepercayaan. Dua hal yang bagi saya, sangat penting. Salah satu fase-fase penting yang merubah saya hingga saat ini. Baiklah, saya tergelitik curiga. Secara tersirat, pelan tapi pasti sepertinya ada pesan yang coba diselipkan kepada kami setiap kali mengajar; Bahwa dua hal tersebutlah yang harusnya kami artikulasikan juga di dalam atau di luar kelas kepada yang ingin berproses dengan sungguh-sungguh.










