Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Opini Mahasiswa

Harry Potter: Fasisme yang Terbungkus Dongeng (bagian II)

dewantara.id by dewantara.id
May 9, 2017
in Mahasiswa, Opini
0
Harry Potter: Fasisme yang Terbungkus Dongeng (bagian II)
98
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Totalitas Sejarah Dalam Serial Harry Potter
Cerita Harry Potter tidak semata – mata menggambarkan kekuatan baik melawan kekuatan jahat atau malaikat melawan iblis. Namun dalam cerita yang terbagi menjadi tujuh jilid buku dan delapan episode filmnya, ada totalitas sejarah yang tersirat. Totalitas Sejarah tergambar dari perkembangan  Harry Potter dan Voldemort dalam sudut pandang waktu, logika dan latar tempat.

Melalui serial ini, kita dapat menyaksikan perubahan fisik Harry Potter dari bocah polos yang terkagum kagum dengan keajaiban dunia sihir, hewan – hewan sihir yang eksotis, mantra gaib yang bisa merubah benda – benda  pada jilid pertama (Harry Potter and Sorcer Stone) menjadi sosok pria dewasa muda pemberani yang gagah pada jilid-jilid berikutnya.

Di sisi lain, dalam serial ini pula kita dapat menyaksikan perkembangan Lord Voldemort yang pada awalnya berwujud sebagai roh tak bertubuh menjadi sosok berbadan utuh. Sama seperti Potter, Voldenmort juga memiliki bakat lahir sihir namun bedanya, bakat yang dimiliki Voldenmort — yang pada akhirnya ketahuan sebagai manifestasi pria muda bernama Tom Riddle[ Rowling, JK. Harry Potter dan Kamar Rahasia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2000] di serial ke dua (Harry Potter and The Chamber of Secret)—merupakan bakat sataniah dan Ia mengembangkan ilmu hitam. Antitesis Voldemort adalah Dumbledore, kepala sekolah Howgrats, yang digambarkan sebagai sosok baik seperti malaikat bagi Potter.

Pada buku pertama terdapat dua seting tempat yang berlawanan. yaitu sekolah Hogwarts yang merupakan represntasi dunia  sihir ideal yang selalu terang dan penuh dengan  kebaikan serta hutan terlarang yang gelap,  berisikan mahluk- mahluk jahat serta tempat Lord Voldemort terlahir kembali sebagai mahluk bertubuh dengan meminum darah unicorn (mahluk mitologi berupa kuda bertanduk satu) dan meminum tetesan darah Harry Potter.[ Rowling, JK. Harry Potter dan Batu Bertuah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2000]

Namun dalam Harry Potter, JK Rowling juga memaparkan adanya beberapa struktur lembaga dalam dunia sihir yang mirip dengan dunia manusia. Yaitu keberadaan lembaga politik seperti kementrian sihir yang selalu campur tangan di dalam jalanya pendidikan sihir di Hogwarts. Struktur lembaga hukum, dengan dihadirkanya lembaga pemasyarakatan Azkaban dan pengadilan sihir. Serta, struktur sosial yang memperlihatkan kelas sosial tertinggi  yang terdiri dari kaum borjuis dunia sihir yang diwakili oleh mereka yang berdarah murni. Yaitu penyihir yang tidak memiliki darah campuran dengan muggle.

Fasisme Voldemort Dalam Sudut Pandang Marxisme
Voldemort tidak hanya saja digambarkan sebagai sosok antagonis yang  berhati iblis Ia juga memiliki ideologi yang menginginkan adanya dominasi darah murni di dalam dunia sihir. Obsesinya ini diwujudkan dengan dibuatnya organisasi pelahap maut (death eater) yang menumpas darah campuran dan penyihir yang menentang keinginan Voldemort. Cita cita pemurnian dunia sihir atau penyingkiran penyhir berdarah campuran dapat dikatakan sebagai analogi fasisme.

Menurut Trotsky dalam pamflet yang berjudul What is National Socialisme?, Fasisme hidup dalam masyarakat karena adanya konsepsi mengenai kingship ( keturunan/darah raja) yang terbentuk melalui proses sejarah. Konsepsi tersebut berasal dari banyaknya figure raja yang gemilang dalam kisah sejarah. Kingship adalah hasil olah pikir naïf dari masyarakat, yang melihat bahwa sifat kebangsawanan ada di dalam diri raja, di jubah dan mahkota dan di dalam darah dagingnya.  Padahal raja menjadi raja adalah ketika masyarakat menginginkanya. Saat masyarakat mengalami perubahan, maka konsep kerajaan akan tersapu bersih dan menyisakan sosok raja yang lemah.

Trotsky menjelaskan kemudian, bahwa fasisme adalah kejadian historis yang dikondisikan. Fenomena yang berkembang dari koalisi kekuatan yang pada dasarnya bersebrangan, yaitu kekuatan kapitalisme dan kekuatan kelas pekerja. Ia lahir dari adanya krisis ekonomi. Untuk menghalau gejolak yang mematikan dari bawah, maka nasionalisme terpusat yang ada di dalam fasisme diperlukan sebagai bentuk sosialisme yang baru.

Pembentukan sosialisme baru tersebut justru di bangun oleh borjuis kecil (petite borjuis) yang memanfaatkan cita – cita sosialis kaum proletar. Menurut praktek ajaran marxisme, fasisme dianggap bertentangan dengan cita-cita sosial kelas pekerja. Sebab fasisme diciptakan oleh kelas borjuis dan mengeskpoitasi kelas pekerja juga.  Sudah barang tentu, kekuatan pekerja yang dimobilisasi adalah pekerja yang merasa menjuadi korban keganasan eksploitasi kapitalisme. [ https: //www.marxist.org/Indonesia/archive/Trotsky/1944-Fasisme.html]

Saat cita – cita fasisme tercapai, kelas pekerja akan disingkirkan. Hal ini terjadi pada fasisme Italia tahun 1920an. Di mana setelah fasis menang atas pemerintahan sebelumnya, Fasisme di bawah Mussolini menjelma menjadi kekuatan borjuis yang menghancurkan kaum pekerja yang dahulunya menganggap, gerakan fasis mirip dengan gerakan kelas pekerja. Dapat dikatakan puncak perjuangan fasisme adalah terciptanya penguasaan kapital yang didukung oleh militer, senjata dan peluh pekerja.

Dalam kaitanya dengan Harry Potter, dapat dikatakan bahwa Voldemort dan pendukungnya  merupakan sekelompok borjuis kecil yang ingin menciptkan dunia baru, yaitu dunia sihir yang terdiri dari penyihir berdarah murni. Dan untuk mencapainya diperlukan kekuatan fasis yang militant dan patuh buta pada pemimpinya, yaitu pelahap maut.

Hal tersebut dapat dibandingkan dengan Hitler dengan NAZI dan pasukan SS nya. Yang bercita-cita membangun masyarakat ideal Jerman yang terdiri dari ras Arya. Untuk mencapainya, NAZI dan SS melakukan serangkaian pembersihan etnis dan ekspansi untuk menyediakan ruang bagi bangsa Arya di masa depan. Bangsa Arya yang akan makmur di atas eksploitasi kaum Non Arya.

Yang menjadi pertanyaan besar mengenai fasisme dalam Harry Potter , apakah hal ini masih relevan  dengan kehidupan modern? Jawabanya adalah iya. Sebab fasisme tidak hanya merupakan gambaran dari masyarakat bengis yang dipimpin oleh sosok psikopat seperti Hitler dengan NAZInya. Namun fasisme, sebagai paham yang memusatkan diri pada keunggulan bangsa dan memandang rendah pada bangsa diluarnya, juga hadir dalam bentuk bentuk lain di era modern ini. Ia hadir di tengah – tengah kita dalam diri prajurit yang dihina, didalam kepahitan hidup imigrat dan etnis minoritas serta hidup di dalam diri pembangkang yang masokis dan gila.

JK Rowling dalam karya fenomenal Harry Potternya, memang tidak memiliki tendensi politis. Ia hanya ingin menggambarkan dunia sihir yang berisikan keajaiban petualangan penyihir muda serta  perang antara yang hak dengan yang batil. Dapat dikatakan konsepsi revolusi kaum proletar tidak ada di cerita Harry Potter karena  sosok Harry Potter adalah sosok yang berasal dari kelas menengah atas, yang dapat menikimati keistimewaan. Bahkan ia digambarkan memiliki warisan kekayaan dari orangtuanya di bank sihir. Ia bukanlah anak miskin yang menuntut hak kelas pekerja karena ditindas kaum kapitalis.

Namun jika kita renungkan, JK Rowling ingin memperlihatkan pada pembaca betapa bahayanya cita – cita pemurnian ras yang digambarkanya dalam obsesi voldenmort untuk menciptakan masyarakat berdarah murni. Selain itu, sosok Harry Potter dapat dikatakan sebagai represntasi dari anggota kelas menengah atas ,yang melawan kelas borjuis picik karena Ia mempercayai bahwa setiap manusia sederajat, keunggulan bukan  hanya berasal dari darah/keturunan namun dari usaha serta prestasi individu.
Harry Potter sebagai karya sastra dapat dikatakan tidak terpisah dari realitas zaman. Realitas yang menunjukan bahwa, di dalam masyarakat modern isu-isu perlawanan terhadap kengerian fasisme masih ada.

Penulis RR Mega Trianasari

Referensi:
Gregor,  A.James.  The Faces of Janus: Marxism and Fascism in Twemtieth Century. Yale University Press. 2004
Rowling, JK. Harry Potter dan Batu Bertuah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2000
Harry Potter dan Kamar Rahasia Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2002
McKenna,  Tony. Art. Literature and Culture from a Marxist Perspective. Palgrave Macmillan. Hampshire: 2015
Neocleous, Mark. The Monstrous and The Dead: Burke, Marx, Fascism. University of Wales. Wales: 2005
https: //www.marxist.org/Indonesia/archive/Trotsky/1944-Fasisme.html

Tags: fasismeharry poter
Tweet25Share39Share10Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Pentingnya Perubahan Kurikulum

Pentingnya Perubahan Kurikulum

January 19, 2024
Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

September 3, 2023
R.A. Kartini: Simbol Perempuan Priyayi-Jawa Yang Tercerahkan

CATATAN PEREMPUAN ATAS REFLEKSI 21 APRIL

April 20, 2023
NATO Climate Change and Security Action Plan :  Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

NATO Climate Change and Security Action Plan : Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

October 26, 2021

Relasi Guru dan Murid Berbasis Kesetaraan

August 25, 2020
WFH dan Komitmen

WFH dan Komitmen

June 28, 2020

Kegagalan Bahasa Indonesia Berkomunikasi dengan Rakyat Indonesia

April 19, 2020
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

March 16, 2026
Perjalanan itu Merubah Manusia

Perjalanan itu Merubah Manusia

March 6, 2026

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version