Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Opini

Australia Sebagai Bangsa Imigran: Klaim Inggris Terhadap Australia (Tulisan ke-1 dari 3)

dewantara.id by dewantara.id
March 22, 2017
in Opini, Praktisi, Uncategorized
0
Australia Sebagai Bangsa Imigran: Klaim Inggris Terhadap Australia  (Tulisan ke-1 dari 3)

poster yang dikeluarkan oleh Overseas Settlement Office Australia, 1928. sumber: wikipedia commons

32
SHARES
2k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Kedatangan manusia modern – istilah ‘manusia modern’ digunakan untuk membedakannya dari ‘manusia purba’ –  ke benua Australia diperkirakan terjadi mulai 50.000 tahun yang lalu. Manusia modern yang Nenek moyang suku Aborigin Australia tinggal di Asia. Sekitar 60.000 tahun yang lalu, sekelompok orang mulai bergerak ke arah timur mengikuti jalur pesisir pantai Samudera Hindia. Mereka mencapai wilayah yang sekarang menjadi negara Indonesia beberapa waktu kemudian. Sekitar 50.000 tahun yang lalu, mereka mulai menetap di Australia.

Bagi bangsa Barat, benua Australia lama sekali belum dikenal, sehingga dalam cerita Yunani dikenal dengan sebutan Terra Australis, yang kira-kira artinya adalah benua selatan (Terra= benua atau bumi dan Australis=selatan). Pada perkembangan selanjutnya, dengan maraknya kolonialisme pada abad ke-17 sampai abad ke-19 maka bangsa Barat pun akhirnya melirik Australia untuk kepenringan mereka.

Klaim Inggris atas Australia

Sejumlah penjelajah Eropa berlayar di pantai Australia, yang dulu disebut sebagai New Holland, di abad ke-17.  Namun, baru di tahun 1770 Kapten James Cook memetakan pantai timur dan menyatakannya sebagai milik Inggris. Wilayah baru ini digunakan sebagai koloni terhukum, dan pada tanggal 26 Januari 1788, armada pertama 11 kapal yang membawa 1.500 orang (setengahnya merupakan narapidana) tiba di Pelabuhan Sydney. Sampai pengangkutan terhukum ini berakhir di tahun 1868, 160.000 pria dan wanita telah datang ke Australia sebagai narapidana.

Para pemukim bebas mulai berdatangan sejak awal tahun 1790-an, namun di sisi lain kehidupan para tahanan sangatlah berat.  Jumlah pria lima kali lipat jumlah wanita, dan kaum wanita selalu hidup dalam keadaan terancam eksploitasi seksual.  Para laki-laki yang kembali melanggar hukum dicambuk dengan brutal, dan kejahatan kecil seperti mencuri dapat terkena hukuman gantung.  Kaum Aborigin yang tergusur oleh pemukiman baru ini lebih menderita lagi. Kehilangan tanah serta sakit dan kematian akibat penyakit yang dibawa orang asing ini mengganggu praktik dan gaya hidup tradisional mereka.

Kebijakan Imigrasi Pemerintah Federasi Australia

Persemakmuran Australia didirikan pada 1 Januari 1901, yang disebut juga Hari Federasi – ketika enam bekas koloni Inggris, sekarang adalah keenam negara bagian Australia – setuju untuk berserikat. Konstitusi Australia, yang pertama kali berlaku pada 1 Januari 1901, meletakkan dasar-dasar sistem pemerintahan Australia.

Australia memiliki 6 daerah koloni yang didirikan oleh Inggris, antra lain: New South Wales, Queensland, Tasmania, Australia Selatan, Australia Barat dan Victoria. Pada awal pembentukan koloni di Australia oleh Inggris juga diikuti perkembangan jumlah penduduk di daerah koloni, datangnya orang Eropa dan Asia dilatarbelakangi oleh beberapa sebab: sebagai penampung narapidana, penanam modal, mencari nasib hidup, mencari keamanan dalam situasi perang pada saat itu.

Pemerintah Federal (atau Persemakmuran) merupakan pemerintah nasional Australia. Pemerintah ini menerapkan hukum yang dibuat oleh Parlemen Persemakmuran. Ini mencakup bidang perdagangan, karantina, mata uang, paten, perkawinan, imigrasi, pertahanan, telekomunikasi, dan penyediaan kesejahteraan.

Sampai tahun 1820, jumlah imigran bebas di Australia masih sangat sedikit. Pertambahan jumlah penduduk kult putih sangat lambat. Delapan dari sepuluh narapidana yang ditransportasikan ke Australia adalah laki-laki. Tentara yang bertugas menjaga keamanan pada umumnya tidak bersama keluarganya, karena itu pertambahan penduduk secara alamiah sangat kecil. Untuk mengatasi kesulitan itu, pada tahun 1830-an pemerintah Inggris melancarkan program memberi bantuan kepada orang-orang yang mau berimigrasi ke Australia. Program ini dikenal dengan sebutan assisted immigrationyang berlangsung terus sampai masa-masa terbentuknya Persemakmuran Australia (Commonwealth of Australia). Wanita dalam kelompok usia 15-30 tahun yang berimigrasi ke Australia diberi bantuan, demikian juga para pedagang dan oranng-orang yang memiliki keterampilan tertentu. Pada tahun 1835 diperkenalkan Bounty System. Menurut sistem ini, para kolonis diminta memilih kualifikasi imigran tertentu untuk didtangkan dan bekerja pada mereka. Kepada kolonis itu diberikan hadiah uang untuk setiap imigran ke Australia adalah rencana yang disarankan oleh Edward Gibbon Wakefield.

Seleksi Ras

Periode perkembangan Australia sebagai suatu bangsa semakin berkembang, dan pada kenyataan pemerintah Federal Australia mulai membuat kebijakan-kebijakan yang mendorong seleksi pada pintu imigrasi.

Pada tahun 1901, yaitu tahun yang sama dengan berdirinya Pemerintah Federasi Australia,  ada aturan imigrasi yang mengatur deportasi bagi orang-orang yang tidak dikehendaki. Saat itu, doktrin “white australia” dipegang teguh oleh pemerintah Federal Australia. Sebagai persemakmuran Inggris, Pemerintah Federal Australia sangat mengharapkan kedatangan para imigran berkebangsaan Inggris untuk mau datang dan bermukim di Australia.

Pemerintah Federal Australia membuat slogan iklan di media massa, bahwa Australia sebagai “working men paradise”. Peraturan-peraturan mendukung perihal konsep “working men paradise”, misal 1) pembatasan jam kerja 8 jam per hari, 2) upah minimum, 3) aturan penghargaan industri bagi suatu jenis industri (arbitration industrial award), 4) pensiun bagi penderita kecelakaan kerja (invalid pension), dan 5) aturan yang membatasi kedatangan pekerja imigran. Hal itu tentunya dalam rangka memikat para calon imigran untuk datang, membuka lahan-lahan luas yang belum terjamah, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian Australia.

Dalam hal membatasi pekerja imigran yang tidak dikehendaki oleh Pemerintah Federal Australia, maka Kementrian Imigrasi mengeluarkan kebijakan “white Australia”. Tentu saja pekerja favorit adalah warga negara Inggris, di luar Inggris juga ada warga dari negara-negara berpenduduk kulit putih seperti negara-negara di Eropa.

 

Sumber            :

indonesia.embassy.gov.au ;

www.nma.gov.au ;

“Immigrant Nation” dari Al Jazeera-English

 

Ahmad Muttaqin

Tweet8Share13Share3Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Pentingnya Perubahan Kurikulum

Pentingnya Perubahan Kurikulum

January 19, 2024
Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

September 3, 2023
R.A. Kartini: Simbol Perempuan Priyayi-Jawa Yang Tercerahkan

CATATAN PEREMPUAN ATAS REFLEKSI 21 APRIL

April 20, 2023
NATO Climate Change and Security Action Plan :  Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

NATO Climate Change and Security Action Plan : Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

October 26, 2021

Relasi Guru dan Murid Berbasis Kesetaraan

August 25, 2020
WFH dan Komitmen

WFH dan Komitmen

June 28, 2020

Kegagalan Bahasa Indonesia Berkomunikasi dengan Rakyat Indonesia

April 19, 2020
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

October 6, 2025
LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

August 31, 2025

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version