Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Kakiku

Belajar dari Suku Baduy

dewantara.id by dewantara.id
September 25, 2016
in Kakiku
0
Belajar dari Suku Baduy
32
SHARES
2.3k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Dewantara- Kesan ketarasingan dengan pola hidup yang oleh sebagian orang dikatakan primitif. Itulah yang akan muncul di benak kita saat mendengar tentang ‘Suku Baduy’. Lepas dari kesan dan anggapan tersebut, siapa sangka jika dari orang Kanekes atau orang Baduy ini kita dapat belajar tentang sebuah kearifan hidup kelompok masyarakat adat Sunda yang berdiam di wilayah Kabupaten Lebak, Banten ini.

Kehidupan yang masih tradisional dengan filosofi kehidupan yang ada memang mengundang warga luar dan wisatawan untuk mengenal lebih dekat dengan orang Baduy ini. Mereka datang sendiri ataupun berkelompok, dari berbagai kalangan seperti pelajar, mahasiswa, guru atau profesi lain.

Bagi kalangan industri wisata, tidak sedikit yang sengaja membuat paket wisata Baduy dalam program wisata di biro perjalanan mereka. Beragam tawaran disajikan untuk mendapatkan gambaran utuh dari suku Baduy ini.

Paket wisata Baduy tersebut tentu saja diharapkan dapat menggali informasi mengenai budaya dan adat istiadat masyarakat Baduy yang berada di daerah Pegunungan Kendeng, Kanekes, Banten Selatan.

“Bagi pelajar yang mengikuti program wisata Baduy mereka akan melakukan outing yaitu mengelilingi alam rimba Baduy, yang masih alami dan sangat nature serta menantang para peserta untuk berpetualang,” kata Agung Prihatiningrat, pemilik biro perjalanan JET Tours and Travel.

Harapan dari perjalanan wisata ke Baduy, khususnya bagi pelajar tentu saja di antaranya adalah memiliki kesadaran untuk mewujudkan dan melestarikan kelangsungan dari cagar budaya dan alam  bangsa Indonesia.

Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan Badawi atau Bedouin Arab yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden).

Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Kawasan Baduy terdiri 58 Kampung yang berada dalam kesatuan Tatar Kenekes. Kesatuan Tatar Kenekes tersebut terbagi atas Baduy luar (penamping) dan Baduy dalam (tangtu). Dari ke 58 kampung tersebut, yang berada dalam daerah baduy dalam adalah : Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo. Sisanya masuk ke Baduy Luar.

Berdasarkan hasil pengukuran langsung di lapangan, daerah ini memiliki luas wilayah sebesar 138 Ha. Wilayah-wilayah pemukiman baduy rata-rata terletak pada ketinggian 250 m diatas permukaan laut, dengan wilayah pemukiman di daerah yang cukup rendah 150 m diatas permukaan air laut dan pemukiman yang cukup tinggi pada ketinggian 400 m diatas permukaaan laut.

Hingga saat ini, suku Baduy memang masih menjunjung tinggi adat istiadat mereka. Bahkan, aturan-aturan berisi larangan pun harus dipatuhi jika ada wisatawan yang datang ke wilayah mereka, seperti tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai.

(Traveller : Agung Prihatiningrat-JET Tours and Travel).

Tags: Suku Baduy
Tweet8Share13Share3Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Mengunjungi Sekolah Waldorf di Yogyakarta

July 9, 2018
Ramai-ramai ke Taman Safari-Puncak

Ramai-ramai ke Taman Safari-Puncak

June 19, 2018
Mencoba Nyebrang ke Bakauheni dengan Dharma Rucitra I

Mencoba Nyebrang ke Bakauheni dengan Dharma Rucitra I

November 1, 2017
Tim WISSEMU Tiba di San Francisco

Tim WISSEMU Tiba di San Francisco

June 14, 2017
Besok, Supermoon Terdekat Dengan Bumi Sejak 1948

Di Tempat Ini, Bayangan Hilang dan Telur Bisa Berdiri

March 10, 2017
Dari Makan Rujak sampai ke Madame Tussaud (Tulisan “Jalan-jalan” ke-2 dari 2)

Dari Makan Rujak sampai ke Madame Tussaud (Tulisan “Jalan-jalan” ke-2 dari 2)

February 11, 2017
Memulai Perjalanan lagi (sambil Nostalgia) ke Singapura & Malaysia (Tulisan “Jalan-jalan” ke-1 dari 2)

Memulai Perjalanan lagi (sambil Nostalgia) ke Singapura & Malaysia (Tulisan “Jalan-jalan” ke-1 dari 2)

February 9, 2017
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

March 16, 2026
Perjalanan itu Merubah Manusia

Perjalanan itu Merubah Manusia

March 6, 2026

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version