Sudah hari kedua ya. Cucu-cucu saya ini mau main ke Lego Land. Rombongan kami kemudian cabut dari hotel Lavender jam 08.00. Rutenya hotel Lavender – Raffles – Jurong. Dari Jurong naik bis sampai ke perbatasan Singapura-Malaysia. Kami sempat turun di pos imigrasi, lalu naik lagi ke bis untuk menuju perbatasan Singapura-Malaysia. Dari situ langsung cuss menuju Lego Land.
Sayangnya, cuaca hujan. Kami jadi main-main di sekitaran Lego Land saja. Kata anakku Mahargono, “Bakalan ngga puas kalau selama di dalam hujan”. Yaah.. sayang sekali…
Setelah makan siang, kami kembali ke Singapura untuk menuju Lucky Plaza. Di situ kami belanja. Lalu, jam 20.00 kami kembali ke penginapan.
Saya pikir Malaysia sepertinya cerdik memanfaatkan kedekatan wilayahnya dengan Singapura. Urusan imigrasi dipermudah karena kami sebagai wisatawan yang membawa keuntungan bagi negara Malaysia. Lego Land sendiri salah satu objek wisata unggulan di Malaysia.
Makanan di Malaysia mirip dengan masakan di Indonesia. Bumbunya, tampilannya, beberapa bahkan namanya mirip. Seperti yang saya coba dan rasanya enak: rujak. Hanya saja rujaknya dikasih kremes-kremes. Bisa dibikin buat jualan di Jakarta atau Bekasi. Mending jualan rujak yang rasanya pedas-asem daripada jualan postingan nyinyir di FB yang juga bikin orang kepedasan dan malah bilang “dasar, kurang aseem!”. #eh
Saya jadi teringat para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia. Setau saya dari info yang diberikan oleh salah satu pegawai perusahaan yang memberangkatkan TKI ke Malaysia, selama para TKI bekerja secara legal dan menyelesaikan kontrak, maka bekerja di Malaysia sebenarnya menjanjikan. Untuk yang berjenis kelamin perempuan, remaja-remaja lulusan SMA atau SMK dapat bekerja di sektor kesehatan, perawat kesehatan, perawat kesehatan, farmasi, maupun pada perusahaan-perusahaan manufaktur. Sayangnya untuk yang berjenis kelamin laki-laki lulusan SMA dan SMK, biasanya lowongan pekerjaan yang tersedia hanya berada di sektor perkebunan dan bangunan. Bagi yang mampu mengoperasikan komputer maupun berbahasa Inggris, peluang untuk naik jabatan menjadi supervisor terbuka lebar.
Pada hari ketiga, jam 08.00 perjalanan kami berlanjut ke Sentosa Resort World. Naik taxi berwujud mobil alphard lagi. Sampai sana, pertama-tama kami lihat-lihat Casino. Casino memang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mau berjudi. Siapapun yang masuk harus menaruh ID card mereka di resepsionis. Untuk turis harus menyerahkan parport mereka. Karena jalan-jalan kali ini dengan cucu-cucu yang masih kecil, maka rombongan kami tidak akan boleh masuk ke dalam Casino.
Pengalaman waktu kunjungan sebelumnya bersama teman-teman SMA, ketika masuk ke dalam Casino untuk melihat-lihat memang diperbolehkan. Hanya saja apabila kita bukan pemain judi, kita tidak boleh mendekati meja judi lebih dari jarak 2 meter. Karena apabila kita terlalu dekat, dikuatirkan akan mengganggu konsentrasi para pemain. Sama halnya dengan mengedit foto dengan photoshop supaya wajah kelihatan bebas jerawat dan kelihatan tirus, judi pun ternyata butuh konsentrasi. Lagipula, saya lihat pemain di Casino memang dari kalangan tertentu, kalangan the have.
Lalu habis itu ke Universal Studio. Lalu lanjut ke Madame Tussaud, dan kemudian menyeberang ke Sentosa Cove.
Saya berfoto dengan banyak patung lilin ya di Madame Tussaud. Misal dengan David Beckham, dan Oprah Winfrey. Ada patung lilin Presiden Soekarno juga, tapi karena alasan tertentu saya memilih tidak berfoto dengan patung lilin Presiden Soekarno. Sebenarnya saya sepertinya lebih mem-favoritkan Presiden Soeharto. Hmnn.. paham kan ya? Mohon para pembaca tidak terganggu dengan favorit saya ya.. hehehe

Satu hal yang berkesan bagi kami adalah Singapura dan Malaysia itu bagus sekali soal transportasinya. Karena di setiap tempat sudah ada fasilitas untuk dapat mencapai tempat tujuan, dan itu semua tanpa ada kesulitan. Prasarana penunjang transportasi sudah tersedia. Khususnya untuk transportasi menggunakan Mass Rapid Transportation (MRT) di Singapura, lokasi stasiun sangat mudah dijangkau. Pilihan-pilihan transportasi selain MRT pun, seperti bis dan taxi sudah tersedia dengan kualitas sama nyamannya.
Kami sudah harus pulang pada hari ketiga. Jam 13.30 kami sudah menuju Changi Airport. Setelah delay sekitar 1,5 jam, pesawat Air Asia yang kami tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta pada jam 20.00.
Widiyati Kosasih
tinggal di Jatisampurna, Kota Bekasi










