Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Opini Mahasiswa

Harry Potter: Fasisme yang Terbungkus Dongeng (bagian I)

dewantara.id by dewantara.id
May 8, 2017
in Mahasiswa, Opini
0
Harry Potter: Fasisme yang Terbungkus Dongeng (bagian I)
95
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

From zero to hero  
Harry Potter adalah fenomena fiksi abad-21. Novel yang ditulis oleh JK Rowling ini telah terjual lebih dari 400 juta kopi pada tahun 2008, diterjemahkan dalam 67 bahasa dan diadaptasi ke dalam film. Hampir tidak ada orang di dunia ini yang tidak terkena demam Harry Potter. Baik mereka yang masih kanak-kanak atau yang sudah dewasa. Harry Potter yang fenomenal tak pelak mendapatkan kritikan, komentar dan juga pujian.

Harry Potter adalah sosok bocah yang tumbuh sebagai anak yatim menyedihkan karena mendapatkan siksaan psikis dan fisik oleh walinya yaitu keluarga Dursley.  Keluarga dari kelas menengah yang tinggal di London. Pada masa bayi, ia hampir terbunuh oleh tokoh bernama Lord Voldemort yang berhasil membunuh kedua orangtuanya, namun Potter berhasil selamat dari percobaan pembunuhan tersebut.  Titik balik kehidupan Potter terjadi pada usianya yang ke-11. Potter mengetahui dirinya adalah penyihir yang mendapatkan kemampuan secara alami dan diundang oleh Sekolah Howgrats untuk mempelajari sihir.

Di sekolah sihir Howgrats, Potter bertransformasi dari anak yatim piatu yang ditindas oleh walinya sendiri, menjadi sosok (the chosen one) yang ditakdirkan menjadi sosok yang akan memusnahkan kekuatan jahat Lord Voldemort  Kemampuanya ini sudah ada dalam diri Potter semenjak Ia lahir. Hal tersebut baru ia ketahui saat masuk ke Sekolah Howgrats. Selain itu, Potter juga dipercaya menjadi atlet olahraga quidditch (semacam permainan bola tangan yang dimainkan dengan  menunggangi sapu terbang) sebagai seeker (penangkan bola bernama snitcher, bola kecil dari emas yang memiliki sayap dan dapat melesat terbang jauh), padahal Harry Potter tidak memiliki bakat sebagai olahragawan saat ia ada di dalam dunia muggle (manusia tanpa kekuatan sihir).

Potter: Perwakilan kelas menengah
Sosok Harry Potter digambarkan tidak terlalu cerdas secara akademis seperti kawannya Hermione Granger yang digambarkan sebagai kutu buku dan terobsesi dengan gelar akademis , namun Potter dianugrahi dengan sifat kebranian, bakat, belas kasih dan kebulatan tekad, yang mana sifat-sifat tersebut adalah cerminan dari gambaran pemuda ideal di kelas menengah ke atas.

Keberadaan Harry Potter di sekolah sihir bergengsi Howgrat sebagai represntasi dari sekolah asrama elit dan bergengsi, dapat digambarkan sebagai keberuntungan bagi mereka yang dilahirkan dengan bakat dan kecerdasan alami. Mereka bukanlah sebagian kecil siswa yang harus berjuang dan berkompetisi dengan anak lain.
Gagasan mereka yang memiliki takdir karena terlahir dengan bakat dan kecerdasan, merupakan legitimasi kelas penguasa untuk menjelaskan kekuasaan mereka di masyarakat yang memiliki sifat eksploitatif kepada kelas sosial di bawah mereka. Gagasan terlahir dengan bakat tertentu terdapat dalam beberapa konsep dalam fiksi Harry Potter, di antaranya:

1.mayoritas masyarakat adalah manusia bukan penyihir (muggles)
2.hanya sedikit anak yang dilahirkan dengan bakat sihir dan berhak masuk ke gemerlapnya dunia sihir

Jurnalis Laurie Penny mengatakan bahwa dunia sihir yang diciptakan JK Rowling adalah tujuan hidup yang gemerlap bagi mereka yang terlahir dengan bakat sihir dan kita yang merupakan masyarakat bukan penyihir hanya bisa mengharapkan hal tersebut terjadi pada kita.[ McKenna,  Tony. Art. Literature and Culture from a Marxist Perspective. Palgrave Macmillan. Hampshire: 2015, hlm 143]

Imajinasi dunia sihir dan sekolah sihir adalah perwakilan dari masyarakat kelas atas yang lekat dengan aristokrat Inggris, pewarisan darah bangsawan, dan dunia yang glamor.

Namun penilaian Peny tidaklah terlalu benar, sebab dunia muggle sihir tidak mengambil porsi yang penting dalam cerita Harry Potter. Dunia manusia tanpa kemampuan sihir hanya berupa dunia antara, tempat penyihir berpindah ke dunia sihir. Fokus JK Rowling adalah dunia sihir yang gemerlap dan tak nyata.

Penulis RR Mega Trianasari

Referensi:
Gregor,  A.James.  The Faces of Janus: Marxism and Fascism in Twemtieth Century. Yale University Press. 2004
Rowling, JK. Harry Potter dan Batu Bertuah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2000
Harry Potter dan Kamar Rahasia Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2002
McKenna,  Tony. Art. Literature and Culture from a Marxist Perspective. Palgrave Macmillan. Hampshire: 2015
Neocleous, Mark. The Monstrous and The Dead: Burke, Marx, Fascism. University of Wales. Wales: 2005
https: //www.marxist.org/Indonesia/archive/Trotsky/1944-Fasisme.html

Tags: fasismeharry potter
Tweet24Share38Share10Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Pentingnya Perubahan Kurikulum

Pentingnya Perubahan Kurikulum

January 19, 2024
Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

September 3, 2023
R.A. Kartini: Simbol Perempuan Priyayi-Jawa Yang Tercerahkan

CATATAN PEREMPUAN ATAS REFLEKSI 21 APRIL

April 20, 2023
NATO Climate Change and Security Action Plan :  Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

NATO Climate Change and Security Action Plan : Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

October 26, 2021

Relasi Guru dan Murid Berbasis Kesetaraan

August 25, 2020
WFH dan Komitmen

WFH dan Komitmen

June 28, 2020

Kegagalan Bahasa Indonesia Berkomunikasi dengan Rakyat Indonesia

April 19, 2020
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

October 6, 2025
LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

August 31, 2025

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version