Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Opini

Homeschooling Sebagai Pendidikan Alternatif

dewantara.id by dewantara.id
August 10, 2018
in Opini
0
Homeschooling Sebagai Pendidikan Alternatif

sumber foto: homeschoolingtangsel.com

53
SHARES
590
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Homeschooling muncul sebagai reaksi ketidakpuasan masyarakat pada sistem pendidikan yang sudah ada. Ketidakpuasaan itu dapat berupa banyak hal. Mulai dari biaya yang mahal, kualitas pendidikan yang dirasa tidak memadai, sampai kasus-kasus bulliying yang marak menimpa peserta didik.

Hakikat Homeschooling

Homeschooling (HS) adalah pendidikan berbasis rumah, yang dengan demikian diselenggarakan oleh keluarga. Dalam lingkup pendidikan nasional HS memiliki payung hukum yang kuat, yakni UU.no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam UU tersebut negara mengakui keberadaan tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal (sekolah), non-formal (kursus, pendidikan kesetaraan), dan informal (pendidikan oleh keluarga dan lingkungan). Nah, HS masuk jalur informal.

Sebagai sebuah alternatif, wajar jika tidak semua anak dapat melakukan HS. Menurut praktisi pendidikan, Darmaningtyas, HS lebih cocok untuk anak-anak yang memiliki kreativitas dan inovasi tinggi. Pada salah satu wawancara tahun 2014, ia mengatakan “Anak-anak yang kreatif memerlukan kebebasan berekspresi. Sementara sekolah memliki aturan-aturan yang cenderung baku, kaku, dan normatif”.

HS juga cocok untuk anak introvert, pendiam, pemalu, dan mempunyai kekurangan fisik sehingga menjadi alasan bulliying bag kawannya. Melalui HS, anak dapat bebas belajar sesuai dengan bakat dan minatnya tanpa khawatir diejek oleh kawan-kawannya.

Sebaliknya anak-anak yang ceria, suka bergaul, periang, dan ekspresif lebih cocok bersekolah di sekolah konvensional. Sebab sekolah formal mengembangkan relasi sebanyak-banyaknya dan mereka juga tidak memiliki beban psikologis. Selain itu, karakter anak tersebut juga dapat memancarkan energi positif bagi kawan-kawannya. Anak-anak seperti itu juga tidak perlu khawatir akan mengalami bulliying dari kawan-kawannya, sebaliknya dia malah mampu membangun persahabatan yang luas.

Homeschooling Sebagai Pilihan Bagi Anak

Penuis berpikir bahwa HS itu suatu pilihan bagi anak-anak atau peserta didik, bukan pilihan orang tua. Secara psikologis setiap anak dapat menjalani HS, asalkan pembuat kurikulum HS sangat memahami anak tersebut dan dapat membuatnya sesuai dengan potensi diri anak. Pembuat kurikulum ini bisa orang tua si anak, bisa pula ahli yang diminta bantuannya oleh orang tua si anak.

Yang perlu dilakukan adalah menelusuri kebutuhan anak dan perancangan “kurikulum” HS-nya. Misal, anak yang menyukai aktivitas perdagangan dapat dibuatkan program belajar matematika dan IPS melalui kegiatan di pasar atau tukang dagang yang lewat. Namun harus diikuti dengan belajar mengubah pemahamannya ke dalam kalimat matematika, atau membuat karangan singkat tentang interaksi pedagang dan pembeli.

Pada perkembanganya, secara umum HS dapat dibagi dua, yaitu 1)HS yang dikelola sendiri oleh orang tua/keluarga ,2)HS yang diorganisasi oleh lembaga. HS yang dikelola oleh orang tua esensi-nya adalah keluarga yang menangani pendidikan anaknya, dari merancang kurikulum, pendekatan pembelajaran, evaluasi, sampai rencana tindak lanjut (biasanya berbentuk penugasan). Sedangkan HS yang dikelola lembaga, maka lembaga sudah menyiapkan paket tutorial (guru mentor datang ke rumah), paket klasikal/komunitas (peserta didik berkumpul di sekolah pada hari dan jam yang ditentukan), dan paket modul (tanpa guru, hanya materi pelajaran saja). Di Indonesia, beberapa HS terorganisasi dijalankan oleh lembaga seperti PKBM Gobal, PKBM Mandiri, dan Homeschooling Kak Seto.

Pada akhirnya, konsep HS menempatkan keluarga sebagai soko guru pendidikan anak-anak pelaku HS. Orang tua harus bertanggung jawab sepenuhnya.

 

Ahmad Muttaqin, M.Pd                        

Guru SMA Negeri 3 Cilegon, Praktisi Pendidikan

Tags: HomeschoolingPendidikan alternatif
Tweet13Share21Share5Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Pentingnya Perubahan Kurikulum

Pentingnya Perubahan Kurikulum

January 19, 2024
Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

September 3, 2023
R.A. Kartini: Simbol Perempuan Priyayi-Jawa Yang Tercerahkan

CATATAN PEREMPUAN ATAS REFLEKSI 21 APRIL

April 20, 2023
NATO Climate Change and Security Action Plan :  Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

NATO Climate Change and Security Action Plan : Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

October 26, 2021

Relasi Guru dan Murid Berbasis Kesetaraan

August 25, 2020
WFH dan Komitmen

WFH dan Komitmen

June 28, 2020

Kegagalan Bahasa Indonesia Berkomunikasi dengan Rakyat Indonesia

April 19, 2020
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

March 16, 2026
Perjalanan itu Merubah Manusia

Perjalanan itu Merubah Manusia

March 6, 2026

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version