Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Opini Mahasiswa

Krisis Ekonomi dan Teori Darwin

dewantara.id by dewantara.id
October 24, 2016
in Mahasiswa, Opini
0
Krisis Ekonomi dan Teori Darwin
109
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Krisis atau resesi ekonomi mungkin telah menjadi bagian dari kehidupan manusia serta bagian dari sejarah peradaban manusia. Ekonom bernama Joseph Schumpeter berkata bahwa krisis ekonomi  berasal dari sistem ekonomi itu sendiri (bersifat endogen)  dan bukan dari luar sistem, oleh karena itu krisis akan terus terjadi lagi kedepannya. Walaupun krisis tidak pernah  berulang secara sama persis, tetapi penggerak utamanya tetap sama yaitu faktor spekulasi dan ekspektasi yang dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada artikel ini saya akan membahas mengapa terjadi krisis ekonomi dari sudut pandang ilmu Biologi.

Saya pernah  membaca buku “The Origin of Species” karya Charles  Darwin, beliau menjelaskan tentang Teori Seleksi Alam. Teori ini di antaranya menjelaskan tentang hukum penyusutan yang  terjadi di alam, jika suatu makhluk hidup yang ukuran atau kekuasaannya terlalu besar maka dalam proses jangka panjang akan menyusut atau punah. Selain itu jika populasi suatu  makhluk hidup meningkat terlalu cepat maka ini akan  berakibat penurunan populasi secara cepat atau lambat.

Telah banyak  kejadian di alam bebas berdasarkan Hukum penyusutan yang dikemukakan Darwin, seperti kepunahan dinosaurus maupun penyusutan populasi pinguin di Antartika karena pemanasan global dan aktivitas manusia. Padahal sebelumnya peningkatan populasi pinguin di Antartika berlangsung cepat selama masa prasejarah.

The Origin of  Species sebagai buku yang membahas ilmu Biologi secara tidak langsung menjelaskan kenapa krisis bisa terjadi walaupun pertumbuhan ekonomi tinggi serta sehatnya perekonomian secara keseluruhan. Kita ambil  contoh krisis moneter yang menimpa benua Asia tahun 1997, dimana pada periode tahun 80an hingga 90an Asia mengalami booming ekonomi yang luar biasa. Masyarakat dunia bahkan menilai Asia sebagai Asian tigers (macan Asia) dan Asian  miracle (keajaiban Asia) namun apadaya, Hukum Penyusutan bekerja. Dibalik pertumbuhan yang fantastis ternyata sistem  institusi yang kurang baik, devaluasi mata uang lokal,  meningkatnya faktor spekulasi, dan menjalarnya praktik KKN terutama di  Indonesia, telah menghancurkan Ekonomi Asia pada tahun 1997 dan mencapai puncaknya pada 1998. Dengan cepat penilaian berubah menjadi nestapa Asia (Asian Mirage). Prestasi ekonomi yang gemilang selama puluhan tahun, hancur hanya dalam hitungan bulan. Duhh sadis juga ya.

Hukum Alam memang bekerja sesuai keunikan dan karakteristiknya  masing-masing. Hukum alam akan terus bekerja selama dunia ini ada. Banyak kejadian di Alam yang mirip dengan kejadian  di lingkungan sosial, Seperti penyusutan populasi dan penurunan ekonomi. Meskipun kedua hal itu berbeda tetapi akarnya sama yaitu penyusutan yang terjadi setelah pertumbuhan yang tinggi. Benar juga pendapat ekonom Schumpeter, bahwa krisis ekonomi sebagai bagian dari sistem ekonomi itu sendiri (kapitalisme) akan melahirkan krisis-krisis baru kedepannya, disamping telah memakmurkan banyak masyarakat dunia namun ia juga menimbulkan krisis (faktor endogen). Berdasarkan Hukum Penyusutan maka dapat disimpulkan bahwa krisis akan selalu ada selama dunia ada  dan krisis akan datang setelah masa booming ekonomi.

Oleh karena itu kedepannya kita harus siap dengan berbagai bentuk krisis yang mungkin akan datang atau bahkan sedang di depan mata. Disinilah kita harus berhati-hati dan banyak pertimbangan. Sebaiknya hindari membeli aset finansial atau berbisnis pada  bidang yang spekulatif, berisiko tinggi, dan diluar kemampuan kita. Berbisnislah dengan sehat, wajar, dan sesuai kemampuan. Hindarilah spekulasi pembelian bubble assets. suatu saat harga bubble assets akan jatuh menyesuaikan nilai fundamentalnya. Menjelang atau bahkan jauh sebelum krisis, investasikan sebagian uang kita pada aset yang memberi kepastian (non-paper asset) seperti emas, lalu simpan yang lama sebagai cadangan saat krisis atau depresi. Jadi gimana nih, siapkah anda dengan krisis yang akan datang selanjutnya?

Yoghy Yusandhy Putra
Mahasiswa Jurusan Manajemen-Universitas Mercu Buana

Tags: ekonomikrisis
Tweet27Share44Share11Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Pentingnya Perubahan Kurikulum

Pentingnya Perubahan Kurikulum

January 19, 2024
Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

Filosofi Pendidikan KHD untuk Zaman Now

September 3, 2023
R.A. Kartini: Simbol Perempuan Priyayi-Jawa Yang Tercerahkan

CATATAN PEREMPUAN ATAS REFLEKSI 21 APRIL

April 20, 2023
NATO Climate Change and Security Action Plan :  Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

NATO Climate Change and Security Action Plan : Bentuk Responsi Aliansi Militer Terhadap Ancaman Iklim

October 26, 2021

Relasi Guru dan Murid Berbasis Kesetaraan

August 25, 2020
WFH dan Komitmen

WFH dan Komitmen

June 28, 2020

Kegagalan Bahasa Indonesia Berkomunikasi dengan Rakyat Indonesia

April 19, 2020
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

March 16, 2026
Perjalanan itu Merubah Manusia

Perjalanan itu Merubah Manusia

March 6, 2026

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version