Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Garis Waktu

Peran Ulama dan Jawara Dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI di Banten (2-habis)

dewantara.id by dewantara.id
September 3, 2017
in Garis Waktu
0
Peran Ulama dan Jawara Dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI di Banten (2-habis)

salah satu gambar dari peristiwa pemberontakan petani banten 1888

32
SHARES
1.6k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Inisiatif yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat Banten terkait proklamasi mencerminkan posisi mereka yang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat Banten. Mayoritas rakyat Banten memandang kemerdekaan sebagai suatu proses pembebasan dari belenggu keterjajahan dan keterbelakangan.

Konsolidasi Ulama dan Jawara

Kedudukan ulama dan jawara di mata masyarakat Banten mencerminkan bagaimana masyarakat Banten mengacu pada kebijaksanaan para tokoh atau pemimpinnya untuk memainkan peran dalam mengambil keputusan. Pos-pos penting seperti rsiden ditetapkan paling awal, dan terpilihlah KH Tb.Ahmad Khatib.

Dalam rapat-rapat besar para ulama dan jawara selalu menyampaikan wejangan-wejangan yang berisi tentang motivasi untuk turut berjuang dalam mempertahankan keerdekaan Indonesia. Dalam salah satu rapat besar pada 18 November 1945 di Tangerang hdir Residen KH Tb.Ahmad Khatib, Kepala Tentara Keamanan Rakyat (TKR) KH Syam’un, Buati Tangerang KH Abdul Hadi, dan Ketua Dewan Revolusioner Tje Mamat. Dalam rapat memperingati tuga bulan berdirinya RI, mereka menyerukan kepada rakyat Banten untuk bersatu menentang segala bentuk penjajahan dan penindasan dari bangsa manapun (artikel “Rapat Besar di Tangerang”, di koran Merdeka, 21 November 1945).

Dalam upaya menentang upaya Belanda menjajah kembali Indonesia, maka para tokoh masyarakat Banten – terutama ulama – menanamkan pemahaman-pemahaman pokok terkait keculasan kolonialisme, yang meliputi : 1) identifikasi terhadap pihak penjajah sebagai golongan yang dalam konsep ajaran Islam dikategorikan sebagai “kafir”, 2) pengungkapan dampak negatif penjajahan dalam kehidupan sosial, 3) pengungkapan eksploitasi ekonomi yang telah dilakukan oleh pihak penjajah.

Radikalisasi Rakyat Banten

Radikalisasi massa rakyat mewujud dalam resistensi terhadap segala hal yang berbau kolonial. Amukan-amukan rakyat kerap menimpa orang-orang yang dianggap sebagai kolaborator Belanda.

Bentuk radikalisasi selanjutnya dikembangkan dalam bentuk agitasi dan pembentukkan badan-badan perjuangan. Kedua hal itu penting dalam menjaga situasi agar terus terkendali dan mampu untuk diarahkan. Langkah-langkah persiapan harus dilakukan dengan memperhitungkan kemungkinan terburuk setelah kedatangan Netherland Indische Civil Administration (NICA).

Ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung pada 19 Desember 1948, maka Yogyakarta dan Banten (dua daerah yang mampu bertahan dari Agresi Militer Belanda I) pun pada akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Jendral Sudirman memerintahkan perang gerilya melawan Belanda. Massa rakyat Banten melanjutkan perlawanan dengan membentuk basis-basis gerilya. Kaum ulama beserta kelompok jawara mengundurkan diri ke dalam hutan dan pegunungan yang memiliki medan berat untuk menyiapkan diri menghdapi perang gerilya. Pusat pemerintahan sipil Banten di Serang tidak berjalan dikarenakan Residen Banten KH Tb.Ahmad Khatib beserta Bupati Serang KH Syam’un  ikut bergabung serta memimpin gerilya bersama massa rakyat Banten.

Gerilya sendiri berlangsung selama satu tahun penuh dan baru berhenti ketika terjadi penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada RI melalui Konfrensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949. Setelah penyerahan kedaulatan peperangan gerilya dihentikan. Mayoritas ulama kembali ke pesantren dan membangun pesantren. Kelompok jawara sebagian menuju pesantren untuk menjadi murid para ulama, sebagian membangun perguruan silat.

 

Ahmad Muttaqin, M.Pd

Guru SMAN 3 Cilegon

Tweet8Share13Share3Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Alasan Diponegoro Memerangi Belanda

Alasan Diponegoro Memerangi Belanda

May 8, 2020
Selamat Hari Pramuka…

Selamat Hari Pramuka…

August 14, 2018
Para Penantang Romawi (2): Variathus dari Lusitania

Para Penantang Romawi (2): Variathus dari Lusitania

August 4, 2018

“Jalur Laut, Jalur Favorit Nusantara Zaman Kuno“

August 1, 2018
Para Penantang Romawi (1): Hannibal Barca dari Kartago

Para Penantang Romawi (1): Hannibal Barca dari Kartago

August 1, 2018
Kekuasaan Adolf Hitler (5 – habis): Hitler Terpojok

Kekuasaan Adolf Hitler (5 – habis): Hitler Terpojok

July 20, 2018
Kekuasaan Adolf Hitler (4) : Operasi Barbarossa

Kekuasaan Adolf Hitler (4) : Operasi Barbarossa

July 11, 2018
Napas Baru Sertifikasi Guru

Pendidikan Islam di Indonesia dalam Sejarah

June 22, 2018
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

March 16, 2026
Perjalanan itu Merubah Manusia

Perjalanan itu Merubah Manusia

March 6, 2026

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version