Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Kabar Nasional

Seminar Internasional Sejarah : Pitung, Banten, and The Dutch (1)

dewantara.id by dewantara.id
January 18, 2019
in Nasional
0
Seminar Internasional Sejarah : Pitung, Banten, and The Dutch (1)

Prof. Dr. Roelof Jakob Van Der Veen dan Dr. Margreet Van Till duduk bersebelahan, didampingi moderator pada Kamis (17/1/2019)

97
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Dewantara, Serang – Sejumlah fakta-fakta yang mengandung unsur ‘kebaruan’ mencuat dalam Seminar Internasional : Pitung, Banten, and The Dutch yang digelar di Aula Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Serang. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (17/1/2019) menghadirkan Prof. Dr. Roelof Jakob Van Der Veen dari University of Amsterdam dan Dr. Margreet Van Till dari University of Leiden.

Bantenologi Sebagai Komunitas Moral

Ketua penyelenggara seminar – sekaligus ketua Bantenologi – Dr. Helmy Faizi Bahrul Ulumi mengawali sambutan. “Kami cukup kaget karena jumlah pendaftar lebih dari 250 orang, walaupun batas peserta hanya150 orang.” Lalu, “Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak kampus, UIN SMH yang sudah mendukung kegiatan-kegiatan seminar seperti ini.”

Helmy lalu bercerita singkat tentang Bantenologi, “Bantenologi sebagai penyelenggara seminar ini merupakan lembaga non-struktural di UIN SMH yang telah berdiri sejak tahun 2000. Pendirinya antara lain Dr.Mufti Ali dan Ruby Ach Baedhawy. Saya sendiri masuk pada tahun 2007. Lalu saya melihat bahwa pada awalnya Bantenologi berangkat dari komunitas moral, yang kegiatannya untuk membangun kajian-kajian tentang Banten.” Ia melanjutkan, “Pada perkembangan selanjutnya, Bantenologi membantu menerobos kekurangan-kekurangan sumber penelitian sejarah maupun budaya Banten.”

Dr. Helmy Faizi Bahrul Ulumi selaku Direktur Bantenologi memberikan sambutan.

Turut hadir dalam pembukaan seminar, Rektor UIN SMH Prof Dr H Fauzul Iman, Wakil Rektor II  Prof Encep Syarifudin, Dekan Fakultas Dakwah Dr. H. Suadi Saad, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Provinsi Banten, dosen-dosen, guru-guru, serta beberapa perwakilan dari komunitas budaya, seperti Sanggar Embun Serang. Rektor UIN SMH Fauzul Iman kemudian membuka seminar.

Fauzul Iman dalam pidato pembukaannya menyampaikan, “Saya mengajak kita untuk mengingat dan bersyukur, bahwa keragaman yang ada tetap dapat digerakkan. Semua perbedaan kita hari ini dapat kemudian dipertemukan, tentu itu merupakan sunnatullah.” Fauzul Iman sempat menyinggung pemikiran Tom Nichols, “Dalam buku Dead of Expertise, ada dua hal yang menyebabkan seorang pakar kehilangan ‘kepakarannya’. Yang pertama adalah karena banyak orang atau pemangku kepentingan merasa sama. Sama kapasitasnya, lalu sama pentingnya. Yang kedua internet telah membuat kecenderungan anti-intelektual menguat di kalangan awam. Yang kemudian mendorong pemahaman bahwa pengetahuan dapat diakses siapa saja tanpa harus memahami dan mendalami suatu subjek.”

Rektor UIN SMH Prof Dr H Fauzul Iman membuka Seminar Internasional: Pitung, Banten, and The Dutch pada pada Kamis (17/1/2019)

Melalui seminar, workshop atau lokakarya maka perbedaan perspektif dalam memandang suatu fenomena dapat saling dipertemukan. Secara umum ketika membahas sejarah Indonesia, maupun secara khusus membahas kolonialisme Belanda maka seminar Internasional yang melibatkan pakar  lintas perguruan tinggi diharapkan mampu merayakan perbedaan dalam persatuan.

Hubungan Indonesia dan Belanda Masa Lalu

Roelof dan Margreet menyampaikan pemaparannya mayoritas dalam bahasa Inggris. Roelof mengawali dengan bertanya, “Anda tahu kenapa mayoritas bangsa Indonesia tidak mampu berbahasa Belanda walaupun kekuasaan Belanda sangat lama meliputi kepulauan Indonesia? Jawabannya karena Dutch don’t want Indonesia become the Dutch. Belanda hanya peduli untuk trade, untuk money.”

Ketika ekspedisi-ekspedisi Belanda datang pertama kali ke kawasan Asia Tenggara, mereka menemui dua kota pelabuhan terbesar. Yaitu Malaka dan Banten. Sejarah mencatat bahwa ekspedisi pertama Belanda pada tahun 1596 sampai ke Banten, lalu diulang pada ekspedisi kedua tahun 1599.

Sultan-sultan Banten memerangi Belanda – saat itu dalam konteks Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)– yang sangat ingin menguasai perdagangan rempah-rempah Banten. Sampai kemudian Sultan Ageng Tirtayasa – sultan terakhir dari Kesultanan Banten yang merdeka – berhasil dikalahkan oleh VOC pada 1683.

Roelof lalu menjelaskan, “Kebangkrutan VOC karena sekelompok kecil saudagar menjadi kaya raya sedangkan kongsi dagang semakin merugi.” Lalu, “Saat itulah, Kerajaan Belanda hampir  runtuh, karena pada saat yang sama Kerajaan Belanda harus menghadapi serangan Perancis di Eropa.”

Setelah kekalahan Perancis, dimulailah era baru di Hindia-Belanda. Pada tahun 1830-1870 merupakan “age of plantation”. Lebih banyak orang Eropa yang datang. Lalu orang-orang Eropa tersebut juga membawa istri mereka. Hal itu sangat dipengaruhi oleh dibukanya Terusan Suez. Dimana apabila sebelumnya perjalanan dari Eropa menuju Hindia-Belanda membutuhkan waktu beberapa bulan, namun kemudian dapat ditempuh hanya dalam tiga pekan.

Setelah tahun 1870 sudah mulai banyak keluarga-keluarga Belanda yang datang ke Hindia Belanda. “Ada yang kita sebut sebagai porch (serambi-pen.) culture dalam setiap rumah-rumah keluarga Belanda atau Eropa pada saat itu. Yaitu front porch (serambi rumah bagian depan-pen.) menerapkan tradisi Eropa. Sedangkan back porch (serambi rumah bagian belakang-pen.) menerapkan tradisi masyarakat lokal. Hal itu dikarenakan pada serambi belakang rumah, urusan rumah tangga dibantu oleh pelayan-pelayan lokal.” jelas Roelof.

Buku-buku sejarah di Indonesia pada umumnya mendeskripsikan “age of plantation” sebagai era Tanam Paksa atau dalam istilah Belanda, cultuurestelsel. Era dimana para petani dipaksa menanam tanaman ekspor seperti kopi, teh, tembakau, dan tebu.

Roelof Jakob Van Der Veen berinteraksi dengan audiense. foto: A.Muttaqin

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dalam kepentingan praktisnya, kemudian memikirkan bahwa hanya ada beberapa ribu orang Eropa ditengah-tengah jutaan rakyat pribumi Hindia Belanda. Tentu pengelolaan perkebunan-perkebunan yang sedemikian luas dan –terutama – menguntungkan itu membutuhkan tenaga pekerja-pekerja terdidik tambahan. Lalu pada saat yang sama muncul ke permukaan seorang Belanda bernama Eduard Douwes Dekker yang mengusulkan sekaligus mendesak Resident di Banten untuk memperbaiki kehidupan rakyat pribumi di Lebak. Dalam usahanya, ia bahkan sampai menghadap ke Gubernur Jendral. Untuk supaya pemerintah kolonial mengubah kebijakannya yang berdampak tidak manusiawi bagi petani-petani yang Douwes Dekker temui di Lebak, Banten.

Roelof mengambil posisi pada sudut pandang Douwes Dekker, “Bahwa sistem Tanam Paksa berjalan hebat di tataran atas, tapi berjalan sangat buruk bagi orang-orang di tataran bawah.”. Roelof juga menambahkan cerita, “Douwes Dekker frustasi karena protesnya tidak didengar, lalu di saat yang sama juga dia kehabisan uang dan terpaksa harus pulang kembali ke Eropa. Lalu dalam mengisi saat-saat frustasi dan kebingungannya di Eropa, Douwes Dekker menghabiskan tiga pekan waktunya di Kota Brussel untuk menuliskan pengalamannya, yang kemudian diterbitkan sebagai buku “Max Havelaar”. Suatu buku yang kemudian akan mengubah cara pandang pemerintah kolonial.”

Ahmad Muttaqin

Tags: BantenBantenologiBelandaPitungSeminar InternasionalThe Dutch
Tweet24Share39Share10Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

March 16, 2026
Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

October 6, 2025
Peresmian Ruang Kelas Masa Depan oleh Dirut PT.SPC Raymond, Direktur wilayah EMEA Google for Education Colin dan Staf Khusus Menteri Kemendikdasmen Rowi.

Google dan SPC Luncurkan ‘Ruang Kelas Masa Depan’, Kemdikdasmen, Pemprov Banten, dan KSRG Dukung

March 12, 2025
Sambutlah, Sekolah Negeri Pertama KSRG di Provinsi Banten: SMPN 5 Kota Cilegon

Sambutlah, Sekolah Negeri Pertama KSRG di Provinsi Banten: SMPN 5 Kota Cilegon

February 11, 2025
Jelang Pilkada 2024, BAWASLU Jakarta Barat Membuka Rekrutmen 3.452 Pengawas TPS

Jelang Pilkada 2024, BAWASLU Jakarta Barat Membuka Rekrutmen 3.452 Pengawas TPS

September 25, 2024
UNICEF bersama Kemenkes RI Sosialisasikan Helping Adolescent Thrive (HAT) di Kota Cilegon

UNICEF bersama Kemenkes RI Sosialisasikan Helping Adolescent Thrive (HAT) di Kota Cilegon

August 8, 2024
PEMBUATAN PEMBERSIH LANTAI BERBAHAN ORGANIK EKSTRAK SEREH DI LINGKUNGAN PEKUNCEN KOTA CILEGON

PEMBUATAN PEMBERSIH LANTAI BERBAHAN ORGANIK EKSTRAK SEREH DI LINGKUNGAN PEKUNCEN KOTA CILEGON

May 1, 2024
Google Indonesia Mendorong Pemda-pemda di Banten untuk Memaksimalkan Digitalisasi Pembelajaran

Google Indonesia Mendorong Pemda-pemda di Banten untuk Memaksimalkan Digitalisasi Pembelajaran

June 28, 2023
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

March 16, 2026
Perjalanan itu Merubah Manusia

Perjalanan itu Merubah Manusia

March 6, 2026

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version