Tak banyak masjid tua yang berada di ibukota Jakarta. Satu dari beberapa masjid tua yang masih bisa kita kunjungi ada di kelurahan penjaringan. Masyhur disebut Masjid Keramat Luar Batang.
Dewantara – Menelusuri riwayat masjid ini tentu saja tak bisa dilepaskan begitu saja dari riwayat pendirinya. Adalah Al Habib Husain Bin Abubakar Alaydrus seorang ulama Hadramaut yang membangun masjid tersebut tiga abad silam. Kedatangan beliau di tanah air bermula ketika beliau menyelesaikan dakwahnya di daerah India tepatnya di Gujarat dan kota-kota sekitarnya. Sebagaimana ulama lainnya yang menjadikan dakwah sebagai jalan hidup menggapai rahmat-Nya, habib Husain melanjutkan misi dakwahnya ke wilayah Asia Tenggara hingga akhirnya tiba di pulau Jawa. Memilih menetap di Batavia—sebutan Jakarta tempo dulu—pada akhirnya, disinilah tempat persinggahan terakhir Habib Husain dalam mensyiarkan ajaran Islam. Lantas dari mana nama masjid yang terdengar nyentrik ini berasal?
Versi pertama bermula dari nama sebuah kampung di belakang Gedung Museum Bahari. Di jalan Pasar Ikan sebuah kawasan kota tua di kota Jakarta Utara, terletak kampung nelayan yang sering disebut kampung luar Batang dan sudah dikenal sejak ratusan tahun. Kampung yang terletak di kelurahan penjaringan ini merupakan pemukiman tertua di Jakarta. Diperkirakan, pemukiman ini mulai dibangun pada tahun 1630-an. Konon nama itu diambil karena dahulu sewaktu kapal-kapal asing ingin bersandar di perkampungan ini, haruslah dulu melewati semacam portal yang diletakkan di dalam air, sehingga dapat dipastikan, kapal-kapal tersebut tak bakal lewat sebelum melapor. “Itu namanya kampung ini ada diluar batang itu. ‘kan orang dulu itu, bilangnya itu batang. Jadi dijaga oleh batang itu,” Ungkap Adi, seorang marbot masjid Luar Batang. Nah, Di kampung Luar Batang inilah mesjid tua tersebut berdiri. Masjid yang banyak didatangi pengunjung bukan hanya dari Jakarta, tapi juga berbagai daerah di Indonesia.
Lebih lanjut, mendirikan sebuah Surau sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam menjadi langkah jitu yang Habib Husain lakukan dalam syiar Islam kala itu. Islam dapat berkembang dengan cepat. Pesatnya pertumbuhan dan minat orang untuk belajar agama Islam kepada Habib Husain, ternyata mengundang kesinisan dan kekhawatiran dari penjajah VOC yang berkuasa kala itu.
Penjajah Belanda memandang bahwa dakwah Islam lebih-lebih ketokohan Habib Husain adalah sebuah ancaman terhadap eksistensi penjajah kompeni di pesisir utara Batavia tersebut. Hingga akhirnya, Habib Husain beserta beberapa pengikutnya di tangkap dan dimasukkan ke penjara di daerah Glodok.
“Biarpun didalam penjara, dengan karomahnya, beliau ternyata masih bisa mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan tuntunan Islam, padahal pada waktu yang bersamaan beliau masih mendekam dalam penjara.” Ungkap Ustad Adi. Hal tersebutlah yang menurut hikayat lokal yang berkembang, membuat VOC kewalahan dan akhirnya memutuskan untuk membebaskan dan bahkan berbalik menjadi sangat menghormati ketokohan Habib Husain.
Dalam perjuangan beliau dalam membela agama Allah, Sang Ulama kharsmatik ini meninggal dalam usia yang relatif masih muda, yakni dalam usia tidak lebih dari 40 tahun. Tepatnya wafat pada tanggal 17 Ramadhan 1169 atau tanggal 27 juni 1756. Sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing yang meninggal harus dimakamkan di pemakaman khusus yang ada di Tanah Abang.
Sebagaimana layaknya jenazah, jasad Habib Husain diusung dengan Kurung Batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan di Tanah Abang, jenazah Habib Husain tidak ada dalam Kurung Batang (keranda). Lebih aneh lagi, ternyata jenazah Habib Husain masih ada di tempat tinggal semula. Dalam bahasa lain, jenazah Habib Husain keluar dari Kurung Batang. Para pengantar jenazah mencoba lagi membawa jenazah ke pekuburan tadi, namun demikian, jenazah Habib Husain tetap saja keluar dan tertinggal di rumahnya.
Akhirnya para pengantar jenazah memahami dan sepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husain di tempat yang merupakan tempat tinggalnya. Di dekat masjid yang dulu pernah ia dirikan. Masjid dan makam Shohibul Qutub Al Habib Husain Bin Abu Bakar Alaydrus ini, sekarang memang menjadi satu kesatuan lokasi di Kampung Baru Luar Batang Penjaringan Jakarta Utara. Meskipun bangunan masjid tua ini hampir semuanya telah di renovasi, nuansa religius masjid luar batang ini masih tetap dapat kita rasakan. Tetu saja minus nuansa historisnya.
Tak Lagi Tua
Saat ini, Masjid Luar Batang memang jauh dari kesan tua. Setelah direnovasi total, masjid yang didirikan pada 1739 itu kini terlihat modern. Renovasi dilakukan setelah masjid ini semakin rapuh karena menjadi pelanggan setia banjir dan air pasang. “Terendam sampai satu meter lebih,” kata Abdullah bin Abubakar Alaydrus, keturunan Husein yang sekarang mengurus Masjid Luar Batang. Walaupun kesan tua pada Masjid Luar Batang telah hilang, kepercayaan masyarakat terhadap masjid itu tak pernah lekang waktu. Mereka tetap berbondong-bondong berziarah ke masjid yang menjadi cagar budaya dan dikelola Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.
Mereka percaya, masjid yang kini berada di permukiman padat penduduk yang memiliki jalan selebar bus berukuran sedang itu dapat memberikan pencerahan tersendiri bagi yang berkunjung dan salat disana.
Dengan perombakan total mesjid yang sebenarnya masuk dalam bangunan cagar budaya kelas A, hal ini memperlihatkan bahwa perlu ada langkah-langkah yang terkadang harus sangat kompromistis dan terpaksa diambil untuk mengakomodir kepentingan jemaah masjid Luar Batang.
“Kita diharuskan memilih, masjid sebagai bangunan sejarah yang lapuk dimakan usia, atau masjid sebagai tempat beribadah jemaah yang layak,” ujar ustad Adi.
Diluar itu, masjid ini juga memberikan secercah rezeki bagi para pedagang kecil. Tidak sedikit pedagang makanan dan minuman ‘nongkrong’ sibuk berjualan di lingkungan halaman masjid tersebut. Terkesan semrawut memang. Ada penjaja agar-agar, permen hingga es krim di siang ataupun sore hari, hingga pedagang sekuteng ataupun makanan lainnya di malam hari. maklum, tidak sedikit peziarah yang datang dan memutuskan untuk menginap dan beribadah malam di masjid ini. Coba saja sesekali mendatangi masjid Luar Batang pada malam Jum’at, kita akan mendapati ribuan peziarah, baik pria maupun wanita yang datang dari berbagai tempat di Jawa dan Sumatera. Sehingga tak heran jika banyak pedagang yang bejualan hingga pagi dikarenakan banyaknya jemaah yang beribadah ataupun ziarah hingga terbit matahari.
MZ










