Jika mau jujur, teramat banyak momentum pembersihan diri yang setiap waktu kita lewati begitu saja. Umat Islam meyakini ada kebaikan tersendiri pada tiap waktu, bulan Ramadan misalkan.
Penyucian jiwa dan raga lewat puasa di bulan Ramadan dapat dianggap pula sebagai bulan penataran, pelatihan, dan penggemblengan pribadi muslim untuk mencapai penyucian jiwa dan raga.
Penyucian raga dalam arti, tubuh manusia dikendalikan agar jangan sampai digunakan untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah berupa kejahatan dan kemaksiatan.
Sedangkan, penyucian jiwa artinya agar umat Islam menjauhi sifat-sifat batin yang tercela seperti berdusta, menipu, dengki, buruk sangka, berpikiran cabul, kotor, dan lain-lain. Lewat jalan puasa pembentukana pribadi muslim digembleng.
Nafsu dikontrol, segenap pikiran atau niat kotor di hapus. Hingga pribadi muslim menjadi tangguh dan suci jiwa raga dengan upaya yang demikian sesungguhnya upaya membangun karakter bangsa sebenarnya berasal dari upaya kita membangun karakter individu diri kita masing-masing.
Keistimewaan momen ramadan tersebut memang patut untuk disyukuri. Bulan ramadan menjadi satu jalan istimewa untuk memulai ikhtiar membangun karakter diri ideal.
“Sebenarnya karakter bangsa ditentukan oleh karakter masyarakat, karakter masyarakat ditentukan oleh karakter keluarga, dan karakter keluarga ditentukan oleh karakter personal. Puasa adalah juga ibadah personal, jadi puasa yang dijalankan oleh tiap muslim, pada hakekatnya juga punya korelasi positif dalam membangun karakter bangsa,” ujar Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal.
Tidak usah bingung menerka seperti apa upaya agar ketangguhan pribadi muslim dapat diwujudkan. Rasul adalah contoh teladan sekalian umat. Keteladan Rasul SAW dapat diketahui dari segenap sikap murah hati, dermawan, lembut, dan santun dalam pergaulan sosialnya.
Sifat-sifat tersebut sangat menonjol diperlihatkan oleh Rasulullah SAW dalam bulan Ramadan. Seandainya setiap pribadi muslim dapat mengamalkan sifat-sifat tersebut niscaya sangat menunjang terwujudnya hubungan sosial yang harmonis.
Solidaritas Sosial
Ibadah puasa Ramadan diakhiri dengan Idul Fitri atau Lebaran, yang disebut juga hari kemenangan umat beriman. Maksudnya ialah setelah umat Islam selama sebulan berlatih dan mengamalkan pengendalian hawa nafsu, maka sampailah pada puncak ibadat tersebut, yaitu telah memiliki ketahanan mental untuk menangkis godaan hawa nafsu yang didorong oleh bujuk rayuan setan.
Umat beriman merasa mendapat kemenangan melawan godaan setan. Ajaran pengendalian hawa nafsu ini dimaksudkan agar umat Islam setelah Lebaran dan menapak pada bulan-bulan berikutnya telah memiliki fondasi yang kukuh untuk selalu menentang kejahatan dan kemaksiatan.
Sebelum umat Islam melakukan ibadah salat Idul Fitri, mereka diwajibkan mengeluarkaan zakat fitrah bagi mereka yang mampu.
Zakat fitrah berupa bahan makanan pokok dibagikan kepada kaum fakir miskin agar mereka bisa menikmati kegembiraan pada hari raya Lebaran tersebut bersama saudara-saudaranya yang mampu.
Kegembiraan yang menjadi refleksi kemenangan diri dalam mengendalikan hawa nafsu dan godaan setan.
“Refleksi puasa dalam tingkah hidup sehari-hari kiranya dapat menjinakkan jiwa kita, hati kita jauh lebih lembut. Refleksi puasa adalah juga refleksi sifat yaitu refleksi kemurnian Allah, bukan sifat-sifat kekerasan.” ungkap Nasaruddin Umar.
Dengan upaya refleksi untuk mau membuka diri, membersihkan, dan membuang jauh-jauh pikiran, perasaan, serta perilaku kotor, semoga saja petunjuk, hidayah dan inayah, dan energi Illahi dapat dengan mudah kita terima.
Inilah pula dasar fundamen untuk membangun kesalehan sosial, baik bersifat individual maupun komunal.
Selain aspek religiusitas yang lebih individual, puasa juga merupakan jalan menuju kesehatan baik secara mental, fisik maupun sosial.
Berbagai kajian ilmiah menunjukkan dampak puasa amat positif bagi kesehatan dan pembinaan mental. Diharapkan pula dari sini terbentuk personal-personal yang paripurna untuk kemudian membangun jaringan kesalehan sosial.
Kesalehan sosial yang juga bisa mengimplementasikan solidaritas, kejujuran, toleransi, maupun welas asih, mampu meredam konflik-konflik individual maupun komunal. Hidup menjadi demikian indah dan bermakna bila terhimpun manusia yang tingkat kesalehan sosialnya tidaklah payah.
Sungguh sangat tepat Ramadhan kita refleksikan dalam kapasitas tersebut. Dan nyatalah kemudian bahwa hikmah kita berpuasa bukan semata linear urusan vertikal transendental, namun juga horisontal sosial.
Subhan Aisyi Atharizz











