Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Seni Budaya

Ulas Film ‘Newton’: Benar-Benar Orang Kuat Dari Pemilu India

Oleh: Hendro Prasetyo

dewantara.id by dewantara.id
April 26, 2019
in Seni Budaya
0
Ulas Film ‘Newton’: Benar-Benar Orang Kuat Dari Pemilu India

sumber: impawards.com

32
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Film Newton bercorak komedi gelap nan satir. Benar saja, tidak ada tarian-tarian, nyanyian atau sendu-sendu percintaan. Apalagi berharap aktor dan aktris rupawan. Segera lupakan. Dibuat tahun 2017, film ini menceritakan peliknya salah satu proses demokrasi India, yakni pemilu yang bisa buat kita mengernyitkan dahi: India bisa seserius itu ya filmnya?

 

Telah terjadi tiga pembunuhan calon legislatif rentang dua minggu menjelang pemilihan dewan di India di pedalaman Hutan Chattisgarh, India Tengah. Wilayah itu disinyalir tempat berkumpulnya separatis komunis, Maois dan Naxal yang ingin menggulingkan pemerintah melalui revolusi bersenjata. Segala hal tentang India dan programnya akan diboikot. Terlebih lagi Pemilu 2017.

Newton (Rajkummar Rao) merupakan pegawai magang pemerintah untuk pemilu legislatif 2017. Sosoknya yang serius dan polos terlihat manakala rapat prakondisi panitia pemilihan tingkat daerah. Di Hutan Chattisgarh, ada penduduk yang berhak mendapatkan suara disana. Tugas para panitia adalah memastikan ada pemilihan yang adil dan rahasia.

Yang menjadi masalah adalah selama bertahun-tahun tak ada pemilihan disana karena rawan konflik. Sang koordinator pemilihan daerah pun berkata, “turuti saja permintaan mereka (kaum separatis),” Andai begitu, maka pemilihan ulang. “Jika pemilihan ulang pun gagal, bagaimana?” tanya Newton. Maka diulang dan diulang lagi hingga selesai.

Sang tokoh utama Newton Kumar sebenarnya bernama asli Nutan Kumar. Nutan dalam bahasa India artinya baru, anyar, gres dan sebagainya. Nama yang jadi olok-olok membuat si empunya nama mengubah namanya sendiri menjadi Newton. Sang koordinator pemilihan bercerita pada Newton, “kau tahu apa sumbangsih Newton pada dunia? Ia menyamakan semua perbedaan. Alam memperlakukan semua orang sama. Tak ada perbedaan langit dan bumi. Baik taipan Ambani dan penjual teh  jika jatuh bersama, maka akan mendarat pada saat yang sama.”

Dengan 814 juta pemilih dan 9 juta Tempat Pemungutan Suara di India, mengapa ia justru rela ditempatkan di wilayah konflik Hutan Chattisgarh? Baginya tugas adalah tugas. Ya, film ini memang berkonsentrasi pada seni peran Rajkummar Rao memerankan Newton yang keras kepala, idealis namun fokus.

Sinematografi hutan dan kondisi militer yang berjaga disana memang mantap. Karena fokusnya adalah Newton dan tim panitianya, maka suasana gelap dan terjal hutan dihadirkan menambah efek kelam pada film. Tolong, jangan bandingkan dengan acara-acara petualangan alam di televisi kita yang suka pakai drone dan teriak your trip, your adventure…

Newton dan tiga orang timnya dikawal oleh pasukan militer penjaga hutan tersebut. Pasukan militer dikomandoi oleh Aatma Singh (Pankaj Tripathi). Sang letnan ini sangat pesimis bisa diadakan pemilu di Hutan Chattisgarh. Selain karena rawan serangan militer separatis juga karena penduduk disana buta huruf, bahkan tidak bisa berbahasa India. Sebuah daerah yang sangat terisolir dan mencekam.

Adu peran antara Newton dan Singh terlihat asyik. Dua spektrum  karakter yang memperkaya satu sama lain. Didukung naskah yang kuat dan alur cerita yang sengit antar keduanya. Simak perbincangan hangat antara mereka soal kriket.

Singh: “Kamu ingin jadi pelempar atau pemukul?”

Newton: “Wasit.”

Singh: “Tipe terlalu banyak pikiran rupanya. Bagaimana menurutmu tentang kelompok Maois?”

Newton: “Tidak ada pendapat. Mungkin inilah alasan mereka mengirimku kesini.”

Jika ingin belajar menjadi orang benar-benar kuat, di film ini terpapar jelas. Bukan, bukan sang militer yang punya laras panjang, tameng dan kuasa atas anak buah. Newton mengajarkan kita bahwa sekuat-kuatnya orang adalah yang memegang teguh prinsip dan menyelesaikan tugas, walau dalam kondisi terburuk.

Konflik pun dibuat apik. Setelah datang media yang meliput, para warga akhirnya mau memilih (meski buta pada calon pilihan). Sungguh sebenarnya sifat keras kepala membuat kesal Letnan Singh. Meski belum jam 3 sore batas waktu pemilihan, dibuatlah seolah-olah ada penyergapan dari separatis yang dirancang Letnan Singh. Menyadari telah ditipu, Newton bersikukuh untuk kembali ke TPS. Setelah dihadang militer dan dilumpuhkan, perjuangan Newton sepertinya berakhir.

Dalam pengawalan, di tengah perjalanan Newton mendapati ada empat warga yang menghampiri untuk memilih. Dengan perlawanan seadanya, ia merampas senjata pasukan Singh. Situasi berbalik, Newton menguasai keadaan. Ia instruksikan timnya melayani para warga memilih melalui mesin pemilu. Tujuannya cuma satu: biarkan warga ini memilih. Tim Newton menyelesaikan tugasnya sebagai panitia pemilihan tepat jam 3. Secara tak sadar, Newton berhasil mengalahkan skeptisisme hanya dengan melaksanakan tugas hingga tuntas.

Di akhir film, secara mengejutkan Newton menunjukkan pada salah satu anggota timnya penghargaan atas ketepatan waktunya. Anggota tim kemudian bertanya, “Pak, kau seharusnya dapat penghargaan atas kejujuran?,” Newton membalas santai “Aku tidak tahu tentang kejujuran. Aku hanya menjalankan tugasku.”

 

Film: Newton

Tahun pembuatan: 2017

Sutradara: Amit Masurkar

Penulis Naskah: Amit Masurkar, Mayank Tewari

Tweet8Share13Share3Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Suguhan Sekian Semesta dalam Dr.Strange: Multiverse of Madness

Suguhan Sekian Semesta dalam Dr.Strange: Multiverse of Madness

May 11, 2022
Review Serial Hitam: Zombi Masuk Desa

Review Serial Hitam: Zombi Masuk Desa

August 17, 2021
The Falcon and Winter Soldier: Sambutlah “Black Captain America” yang Humanis dan Politis

The Falcon and Winter Soldier: Sambutlah “Black Captain America” yang Humanis dan Politis

June 9, 2021
A Quiet Place II: Tegang dan Seru Selevel Jurassic Park Lost World dan I’m Legend

A Quiet Place II: Tegang dan Seru Selevel Jurassic Park Lost World dan I’m Legend

June 9, 2021
Ulas Serial ‘Girl From Nowhere: Season 1’: Setan Itu Hanya Menggoda

Ulas Serial ‘Girl From Nowhere: Season 1’: Setan Itu Hanya Menggoda

June 7, 2021
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Revolusi Indonesia Lewat Layar Lebar

Revolusi Indonesia Lewat Layar Lebar

April 15, 2020
Mentari di Raja Ampat: Wisata Terestrial Berbasis Konservasi

Mentari di Raja Ampat: Wisata Terestrial Berbasis Konservasi

January 24, 2020
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

October 6, 2025
LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

August 31, 2025

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version