Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Seni Budaya

Review Serial Hitam: Zombi Masuk Desa

Oleh: Hendro Prasetyo

dewantara.id by dewantara.id
August 17, 2021
in Seni Budaya
0
Review Serial Hitam: Zombi Masuk Desa

sumber: KlikFilm.com

32
SHARES
1.7k
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

Genre Zombi atau mayat hidup pemakan manusia sering berputar di plot kejar-kejaran dan strategi bertahan hidup. Setahun terakhir dengan munculnya Army Of The Dead, besutan Zack Snyder, genre ini punya warna baru; Zombi yang bermasyarakat dan berpolitik. Tak lama, keluarlah dari negeri khatulistiwa tercinta kita sebuah karya serial bertema mayat hidup dengan kearifan lokal berjudul Hitam.

Mungkin bikin penasaran karena serial Hitam bertema horor dengan genre Zombi terbilang nekat untuk dibuat di Indonesia. Jika mau main aman, ambil saja naskah film tentang setan, ilmu mistis dan pembunuhan berantai. Dengan metode jump scare atau kaget-kagetan niscaya aman secara pemasukan.

Hanya saja resep ini yang tidak diambil Sidharta Tata sebagai sutradara dan Ifa Ifansyah sebagai produser. Diusung Fourcolors Film, Hitam urung menyajikan fenomena mistis dan teknik kaget-kagetan. Bisa dibilang menantang, Hitam coba menyelipkan intrik politik lokal dan hubungan benci-tapi-cinta antara anak dan orangtua. Bagaimana akhirnya?

Semua tergantung eksekusi di lapangan. Hitam menjadi film thriller bergenre zombi pertama yang layak tonton, layak didiskusikan dan layak diganjar penghargaan. Berlebihan? Jika dari sudut cerita dan implementasinya yang mulus, sudah selayaknya.

sumber: KlikFilm.com

Kisahnya dimulai ketika Tika (Sara Fajira) mudik ke Jogjakarta selepas lulus kuliah luar negeri di London. Sang ayah Pak Dibyo (Doni Damara) tentu bahagia. Maklum, mereka tinggal berdua saja. Tapi panas dingin hubungan keluarga sudah diaktifkan di awal cerita serial Hitam. Pak Dibyo sebagai pamong desa alias lurah memang mengemban amanah tak main-main kepada warganya. Namun, Tika sering menganggap bapaknya hanya seperti pejabat kebanyakan: gila jabatan.

Ekskalasi konflik meningkat. Sambil mengatasi rumitnya hubungan dengan anak, Pak Dibyo juga diuji di pekerjaan. Di kantor, Pak Bambang (Seteng A.Yuniawan) sebagai salah satu penguasa lokal tak resmi alias preman kerap menyenggol Pak Dibyo soal renovasi pasar. Pintanya pak Bambang, renovasi pasar dibatalkan. Di lain pihak, Pak Dibyo menganggap renovasi pasar ini jadi sarana “mengusir halus” preman pasar yang kerap menyusahkan pedagang.

Tak berhenti sampai situ. Pak Bambang punya jurus lama tapi ampuh sampai sekarang: kirim bingkisan. Masalahnya, bingkisan yang dititipkan ke Pak Rahmat hilang. Baik Pak Rahmat dan bingkisan yang dititipkan hilang bersamaan. Warga desa heboh. Anak Pak Rahmat, yakni Retno (Eka Nusa Pertiwi) berteman karib dengan Tika.  Retno pontang-panting cari bantuan mencari keberadaan ayahnya yang misterius.

Retno sangat penasaran dengan raibnya sang ayah. Ibunya sakit-sakitan. Berbekal bantuan Pak Dibyo dan warga pencarian Pak Rahmat dimulai di hutan. Disinilah titik menariknya. Cerita tidak lantas dihubungkan dengan sesuatu yang gaib. Tapi disangkutpautkan  dengan binatang buas. Hingga kehadiran polisi bernama Gilang (Aksara Dena) yang dihadirkan Tika demi investigasi yang lebih dalam.

Transformasi Cerita, Transformasi Ketegangan

Gilang, Retno dan Tika punya kisah terkait. Selain bertiga sobat karib, ada asmara yang rumit. Bertiga saling berkelindan satu sama lain, juga dengan Pak Dibyo yang mengangkat Gilang sebagai anak angkatnya. Di ujung cerita hilangnya Pak Rahmat, ada rahasia besar yang ditutupi Pak Dibyo. Rahasia inilah yang menjadi benang merah cerita. Setiap fakta terkuak, seketika itu rasa penasaran makin menggelora. Meski semua tahu siapa pelaku utamanya di pertengahan serial, namun ketegangan cerita tidak berhenti. Sang sutradara sudah menyiapkan alur cerita yang kuat agar kengerian bisa berlangsung hingga akhir serial. Seperti bagaimana perjuangan Pak Dibyo, tindakan Gilang sebagai orang dekatnya namun juga sebagai penyelidik dan Pak Bambang yang masih terusik soal renovasi pasar.

Serial ini berjangka empat episode. Lebih tepatnya bisa disebut mini serial. Tiap episode, sang sutradara Sidharta Tata menempatkan unsur dag-dig-dug dengan cara yang berbeda. Ketegangan dimulai dari riuhnya warga desa perihal bentuk dari binatang buas yang memangsa Pak Rahmat dan kambing-kambing ternakan. Lalu ketika Tika sudah diketahui pemangsa manusia ketegangan makin meningkat. Mode bertahan hidup ala Pak Dibyo dan rongrongan Retno mencari bapaknya kian menarik.

Nuansa dan tema yang mengambil daerah pedesaan pelosok Jogjakarta juga menjadi nilai plus. Semenjak awal serial, suasana kelam kerap dihadirkan secara konsisten. Belum lagi pengambilan kamera dan lokasi yang minim tapi tepat sasaran. Lokasi di sebuah rumah pak Dibyo, dengan arsitek joglo, banyak pintu dan gudang beralaskan tanah adalah tipikal rumah di Jawa. Tenang saja, rumahnya masih alami. Bukan baru dicat kemarin.

Paling menjadi titik seru juga adalah kehadiran Pak Bambang dan rombongan premannya. Selipan konflik politik lokal memang jadi menu spesial di serial ini. Alih-alih hanya pengiring laju cerita, konflik politik jadi cerita berkesinambungan dengan cerita utama. Berkembang dari penyodoran “bingkisan” menjadi perebutan kekuasaan.

sumber: KlikFilm.com

Tak hanya cerita, aksi teatrikal Pak Bambang alias Seteng A. Yuniawan ini tak mudah dilupakan. Dengan mimik muka khas politikus kelas teri, aksi culas-culasan lambat laun makin asyik. Tak bisa ditampik, penampilan Pak Bambang hampir mencuri perhatian perjalanan serial ini.

Penggunaan bahasa daerah (dalam hal ini Jawa) juga ramuan ampuh. Dari Ngoko hingga Kromo Inggil ada. Bahkan istilah yang jarang digunakan seperti Gaman yang berarti senjata tajam, digunakan di serial ini.  Isu-isu yang dinaikkan di serial Hitam ini memang coba dikaitkan dengan persoalan lokalitas.

Serial Hitam baiknya ditonton sendirian atau bareng-bareng teman sefrekuensi yang gemar adegan potong-memotong daging. Ya, tidak untuk semua usia bahkan yang dewasa yang kerap jijik melihat potongan daging manusia dicincang. Mungkin untuk menambah efek riil, sutradara menggunakan unsur gore yang biasa terjadi di film-film zombi. Saran saja, lebih baik menonton dengan perut terisi.

Sutradara kenamaan Joko Anwar yang kerap membuat standar tinggi film thriller tanah air -seperti Pengabdi Setan, Pintu Terlarang dan Perempuan Tanah Jahanam- menyatakan dalam media sosial resminya bahwa serial Hitam adalah first rate thriller dengan penyutradaan ciamik. Hmm… Patut ditunggu karya sutradara muda Sidharta Tata lainnya.

 

Serial : Hitam (4 episode)

Rilis: Juni 2021

Pemain: Donny Damara, Sara Fajira, Eka Nusa Pertiwi, Seteng A. Yuniawan, Aksara Dena

Sutradara: Sidharta Tata

Tags: filmfilmindonesiareviewfilmzombie
Tweet8Share13Share3Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Suguhan Sekian Semesta dalam Dr.Strange: Multiverse of Madness

Suguhan Sekian Semesta dalam Dr.Strange: Multiverse of Madness

May 11, 2022
The Falcon and Winter Soldier: Sambutlah “Black Captain America” yang Humanis dan Politis

The Falcon and Winter Soldier: Sambutlah “Black Captain America” yang Humanis dan Politis

June 9, 2021
A Quiet Place II: Tegang dan Seru Selevel Jurassic Park Lost World dan I’m Legend

A Quiet Place II: Tegang dan Seru Selevel Jurassic Park Lost World dan I’m Legend

June 9, 2021
Ulas Serial ‘Girl From Nowhere: Season 1’: Setan Itu Hanya Menggoda

Ulas Serial ‘Girl From Nowhere: Season 1’: Setan Itu Hanya Menggoda

June 7, 2021
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Revolusi Indonesia Lewat Layar Lebar

Revolusi Indonesia Lewat Layar Lebar

April 15, 2020
Mentari di Raja Ampat: Wisata Terestrial Berbasis Konservasi

Mentari di Raja Ampat: Wisata Terestrial Berbasis Konservasi

January 24, 2020
Ulas Film ‘Family’: Tertawa Aneh, Tertawa Cara Juggalo

Ulas Film ‘Family’: Tertawa Aneh, Tertawa Cara Juggalo

November 26, 2019
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

Dakwah di Pinggir Jalan: Konsistensi LAZISNU Cilegon dalam Berbagi Takjil

March 16, 2026
Perjalanan itu Merubah Manusia

Perjalanan itu Merubah Manusia

March 6, 2026

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version