Dewantara
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi
Dewantara
No Result
View All Result
Home Seni Budaya

Novel “GYT” (2)

dewantara.id by dewantara.id
April 20, 2018
in Seni Budaya
0
Novel “GYT” (2)
53
SHARES
586
VIEWS
Share on TwitterShare on Facebook

10 Tahun Kemudian ….

Stasiun kereta pagi di Bintaro padat sekali dengan kerumunan orang. Para pekerja yang berdiri berjejeran di pinggiran rel kereta sejak jam 6 pagi. Sebagian mulai menggerutu karena jelang jam 7 pagi, lokomotif kereta juga tak kunjung terlihat. Aku juga tak kalah paniknya. Keringat dingin mulai membalur telapak tangan. Petugas stasiun yang biasanya memberitahukan posisi terbaru kereta melalui corong suara juga belum terdengar. Bertanya ke petugas stasiun juga sama tak memuaskan jawaban mereka.

“Biasanya sih sudah sampai Mba jam 6.15,” petugas stasiun menjawab diplomatis.

“Iya kok lama sih Pak sekarang. Padahal sudah jam 7?”

“Wah tidak tahu aku Mba kalau urusan itu.”

Pikiranku kemudian terbersit kepada tukang ojek di depan stasiun. Lebih baik korban sedikit uang pikirku, daripada kesempatanku bekerja di media impianku melayang gara-gara keterlambatan kereta. Apalagi aku sudah susah payah dan memberanikan diri hijrah dari Jawa Timur untuk datang ke Jakarta memenuhi panggilan wawancara kerja ini. “Ah sudahlah naik ojek saja.”

Namun, baru hendak melangkah ke pintu gerbang stasiun, suara desing rel kereta api yang bergesekan dengan roda kereta mulai terdengar. Kulongok sebentar ke arah suara itu. Benar saja, kereta yang ditunggutunggu sejam lebih, akhirnya mulai tampak lokomotifnya. Akupun berlari dan berusaha mencari tempat di sebelah rel, berjejer dengan pekerja-pekerja yang mengandalkan jasa kereta untuk berangkat mengais rupiah.

“Ah syukurlah masih terkejar jadwal psikotes dan interview jam 9 nanti,” pikirku dalam hati. Sesampainya di Stasiun Tanah Abang, aku langsung naik ojek karena sudah tidak mau ambil resiko terlambat lagi.

“Bang ke kantor koran Warta Ibukota berapa?” tanyaku ke tukang ojek yang sedang duduk santai di atas motor depan stasiun.

“Biasa Neng, Rp 20 ribu aja.”

“Hah, mahal sekali Bang?”

“Ya maklum Neng, apa-apa mahal sekarang Neng.”

“Yasudah Rp 15 ribu aja bang. Oke ya.”

“Yasudahlah,” jawab tukang ojek datar.

Setelah selap-selip di tengah macet Ibukota dan melewati gang-gang tikus jalanan Jakarta, akhirnya aku tiba juga di Kantor Warta Ibukota. Media massa yang kata senior-senior aku menjadi tempat impian bagi wartawan-wartawan senior untuk berkarir di sana. Media massa yang menjadi bahan bacaan dari Sabang hingga Merauke. Dari sudut-sudut pedesaan hingga kantor-kantor mewah di kota-kota besar. Dari rakyat biasa seperti bapak dan ibuku hingga pejabat-pejabat pemerintahan.

Melihat jejeran gedung di sekitar gedung Warta Ibukota saja sudah membuat decak kagum sendiri bagiku. Anak desa yang baru lulus kuliah dan belum pernah ke Jakarta. Baru sekali-kalinya ini. Aku langsung lari menuju lobby gedung dan tengak-tengok mencari lift untuk naik ke lantai 14, tempat interview.

Lantai sepengetahuanku jarang sekali ada dan dihindari oleh temanteman aku yang keturunan Thionghoa. Lantai mati kata mereka biasanya. Kalaupun ada secara urutan, kata dia, penamaannya diganti dengan lantai 13 A atau 13 B. Atau terkadang juga langsung diloncati menjadi lantai 15. Tapi Gedung Kantor Warta Ibukota ini, nyata-nyata dinamai dengan lantai 14. Luar biasa sekali pemilik gedung ini. Berani melawan pakem pemikiran yang sudah ada.

Sesampainya di lantai 14, panitia seleksi kemudian memberikan aku nomor ujian 214. Aduh 14 lagi pikirku. “Ada apa dengan hari ini serba 14. Sudahlah aku positif thingking saja. Siapa tahu itu nomor keberuntunganku,” gumamku dalam hati.

“Silahkan masuk ke ruangan sebelah Gayatri. Lima menit lagi tes psikotestnya sudah akan dimulai,” ujar panitia seleksi.

“Ha ? Lima menit lagi mba?”

“Iya benar, tas, hp silahkan taruh di loker depan ruangan sebelum masuk ke ruangan. Ini kuncinya. Semoga sukses.”

“Baik mba, terimakasih.”

Begitu kubuka pintu ruangan psikotes, semakin ciut nyaliku. Ratusan pencari pekerja lainnya ternyata berjubel, sudah siap di dalam untuk bertarung satu sama lain. Yang di atas nomor urutanku 214 ternyata sudah duduk di kursi masing-masing. Penglihatanku sekilas mungkin ada sekitar 250an orang pagi itu. Keringat dingin dari tubuhku pun semakin kencang keluar. Perasaan optimistis yang aku bangun dan ditambah-tambahi semangat dari bapak ibu semakin memudar ketika duduk di kursi 214.

“Oke semua tolong perhatikan aku!” ucap salah seorang perempuan yang menjadi panitia seleksi pagi itu. Tampilannya tidak begitu formal, hanya memakai celana kain dan kaos yang ditutupi dengan sweeter saja. Mungkin agar tidak terlalu mengintimidasi peserta psikotes pikirku melihat penampilan perempuan itu. Dari paras wajahnya, usianya mungkin berkisar 30 tahunan. Namun begitu, ratusan pasang mata yang berada di ruangan itu langsung tertuju kepada perempuan yang melangkah dari belakang ke depan ruangan psikotes itu.

“Alat tulisnya silahkan disiapkan semuanya. Tes psikotes hari ini akan dibagi menjadi 4 tahapan. 2 tes tulis, 1 tes hitungan dan 1 tes menggambar,” perempuan itu berhenti sejenak sambil memperhatikan sekilas peserta psikotes.

“Baik kalau sudah siap semuanya, panitia seleksi akan bagikan soalsoal. Kalau aku bilang selesai, silahkan letakkan alat tulis semuanya. Kemudian saat aku bilang lanjut berarti silahkan lanjut ke tes berikutnya. Cukup jelas?” tanya perempuan itu. “Jelas,” jawab beberapa peserta tes. Sementara aku hanya menjawab dalam hati saja pertanyaan perempuan itu.

Sudah tergambar betapa sulitnya tes hari ini. Perempuan itu kemudian mengambil penggaris kayu yang ada di sebelah papan tulis.

“Iya silahkan buka tes pertama. Selamat mengerjakan.”

Tidak ingin membuang waktu, aku langsung membuka lembar soal. Sedikit sumringah aku melihat soal-soal benar salah ini. Gampang pikirku kalau ini, pasti akan selesai dengan cepat.

“Ndak,” suara penggaris kayu yang dipukulkan ke meja oleh perempuan itu, mengagetkanku. Mungkin juga mengagetkan bagi sebagian besar peserta psikotes lainnya di ruangan ini.

“Oke silahkan lanjut ke tes berikutnya!” perempuan itu kembali memberikan instruksi. Maksud hati ingin mendapatkan jawaban sempurna, aku lantas membuka lembar soal kedua dengan cepat. Tapi, kali ini agak berkerut keningku. Soal yang sulit pikirku. “Aduhhh ini bukan tes tulis, tapi soal itung-itungan dalam bentuk kalimat tertulis.”

Akupun mengerjakan sebisaku. Meskipun sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi cukup lambat sekali aku mengerjakan soal hitung-hitungan ini. Kalau dipikir-pikir, soal-soal ini adalah soal matematika kelas 1 atau 2 SMP. Mudah, seandainya pertanyaan ini diberikan saat itu. Tapi saat ini, setelah lulus kuliah sepertinya butuh ekstra tenaga untuk mengingat kembali rumus-rumus yang sepertinya tersimpan jauh di dalam otakku. Atau seperti lupa menaruh kunci motor, tapi sedang buru-buru pergi karena dikejar waktu. Alhasil, jawaban tidak ketemu, tapi yang ada, pikiran malah menjadi buntu.

“Ndakkk,” kembali suara penggaris kayu dihentakkan kedua kalinya ke meja. Aku kaget kembali dan semakin panik. Soal tes kedua ini aku hanya mampu menjawab 15 dari 30 soal yang diberikan. Itupun setengahnya tak yakin betul, jawabannya apakah benar atau justru pilihan yang salah.

“Ya lanjut ke tes berikutnya !”

“Srettt,” cepat aku mengambil lembar soal ketiga. Hitungan angka lagi dari tumpukan-tumpukan angka yang berjejer-jejer. Sekuat tenaga aku siapkan jari-jariku untuk menghitung soal tes ketiga ini. Pikiran dan tangan, aku selaraskan sebaik mungkin agar bisa menghitung dan menulis dengan cepat.

“Ndakkkk,” terkaget lagi aku mendengar bunyi penggaris kayu yang dihentakkan seperti tadi pada hitungan tumpukan angka pada deret pertama.

“Iya pindah ke deretan sebelahnya,” ujar perempuan itu. Meski terkaget, aku berusaha mengembalikan kesadaranku untuk dapat menyelaraskan pikiran dan tanganku.

Kembali jari-jariku menulis jawaban di tengah-tengah tumpukan angka.

“Ndak ,” suara penggaris kayu kembali bubarkan konsentrasiku.

“Ndakk …” “Ndakkkkk….” “Ndakkkkk.”

Ada sekitar 20 bunyi hentakan penggaris dan meja dalam tes ketiga ini yang membuyarkan konsentrasiku. Dan terkadang lebih menyebalkan karena menjadi semacam intimidasi bagiku sehingga buyar jawaban-jawaban yang terkadang sudah ada di pikiran. Tapi dilihat dari hasilnya, menurutku tidak terlalu mengecewakan tes ketiga ini. Hampir setiap kolom tumpukan angka, setengahnya selalu aku selesaikan. Dan naik turun grafik antar kolom untuk jawabanku juga tidak terlalu jomplang.

“Baik selesai tes ketiga, lanjut ke tes terakhir. Menggambar. Silahkan Anda menggambar 2 gambar. 1 gambar pohon dan 1 lagi gambar orang yang sedang beraktifitas. Tapi ada kecualinya seperti yang kutulis di papan tulis,” jelas perempuan itu.

Menyerah pikirku dalam hati saat mendengar tes keempat ini. Kemampuan menggambarku sangat buruk selama ini. Tapi demi bekerja di Warta Ibukota, kupaksakan saja menggambar semampuku. Hampir seperti anak TK gambaranku saat itu. Satu gambar pohon beringin yang cukup mudah digambar. Itupun masih juga terlihat cukup kaku gambarnya. Satu lagi gambar petani yang mencangkul. Kaku, lekukan bagian tubuh tak sempurna. Sudut-sudut tubuh kotak. Jauh sekali dari mendekati gambar petani yang sedang mencangkul. Belum habis rasa frustasiku, perempuan yang menjadi panitia seleksi mendatangiku.

“Mba Gayatri, kok gambar pohonnya beringin. Kan sudah dijelaskan di papan tulis tidak boleh menggambar pohon beringin, pohon kelapa dan pohon pisang.”

“Hah… tidak boleh ya Mba, aduh aku tidak membaca tadi,” jawabku sekenanya.

“Baik. ini silahkan menggambar lagi kalau mau. Masih ada 15 menit lagi kalau mau. Ini kertasnya.”

Spontan saja peserta-peserta di sebelahku menertawaiku. Akupun tersipu malu, tapi berusaha kututupin dengan senyuman purapura tegar. Setelah perempuan itu kembali ke depan, peserta lelaki sepantaranku yang duduk di sebelaku kemudian menyapaku.

“Sudah gambar pohon mangga saja. Mudah kan?”

“Ah iya, pohon mangga saja ya,” jawabku singkat.

“Terima kasih ya masukannya, maklum aku tadi tidak cukup jelas membaca aturan di papan tulis. Mata Aku agak sedikir minus soalnya,” jelasku ke lelaki itu.

Ia hanya menggangguk dan tersenyum sedikit.

“Ndakkkk. Baik selesai. Silahkan dikumpulkan semua jawabannya. 2-3 hari lagi nanti kita hubungi siapa saja yang lolos dan interview dengan Pemred Warta Ibukota.”
Beruntung meskipun tidak sempurna, gambar mangga aku sudah selesai. Semua peserta kemudian bergegas mengumpulkan jawaban ke depan. Begitu juga denganku. Namun, tiba-tiba suara yang sudah tidak asing lagi, memanggilku saat hendak mengumpulkan jawaban tes psikotes.

“Aci? Kamu Aci kan ?” tanya lelaki itu seakan tidak percaya melihatku.

“Hah kamu Boy?” jawabku yang juga tak percaya dengan sosok lelaki muda yang menyapaku.

“Wah tidak menyangka aku bisa berjumpa denganmu disini Ci ?” Boy terlihat bahagia berjumpa denganku. Senyumnya tampak mengembang di wajahnya yang tampan. Begitu pula denganku. Berjumpa kembali dengan Boy sahabat masa kecilku sama halnya seperti mendapat bintang jatuh dari langit yang rupawan.

“Kamu juga ngapain disini Boy ?”

“Ya ngelamar lah Ci, masa kesini main-main hehehe,” ujar Boy sambil terkekeh-kekeh ringan.

“Gimana tadi soalnya Boy? Bikin pusing ya soal-soalnya?”

“Ahhh masa, seorang Aci peringkat 1 terus ketika di SMP, lelah menjawab pertanyaan psikotes begini?”

“Hahaha bisa aja kamu Boy. Tapi kamu ngomong-ngomong bukannya di perusahaan di Singapura kalau tidak salah aku dengar dari beberapa teman-teman?”

“Iya. Tapi itu sudah lama aku berhenti bekerja di sana. Hidup di Singapura terlalu teratur. Tidak betah aku menetap di sana.”

“Ah hidup di negara maju kok tidak betah ?”

“Iya kamu tahulah, aku dari dahulu lebih senang bebas berjalan ke mana saja sesuai hatiku. Kapanpun dan dimanapun. Kalau mau ngopi malam-malam, maunya itu tinggal keluar rumah sudah ada yang jual. Begitu juga kalau lagi lapar di dini hari saja, maunya tinggal melongok jendela, sudah ada yang jualan nasi kucing. Begitulah.”
“Kalau Singapura memangnya kenapa?”

“Ya begitulah pokoknya Ci, lebih nyaman hidup di Indonesia aku, masyarakatnya susah diatur, semua bebas berpendapat, walaupun tak semaju Singapura, tapi tinggal di Indonesia ada keasyikan sendiri.”

“Halah bisa saja kamu Boy.”

“Iya dong namanya juga Boy.”

“Tapi bagaimana dengan gelar sarjana kamu dari Universitas Harvard apakah tidak terlalu sayang bekerja menjadi wartawan nantinya?”

“Ah mengapa sayang. Wartawan ini pekerjaan profetik, pekerjaan yang ilmunya dari kenabian. Kenapa tidak.”

“Ilmu profetik, ilmu kenabian. Kamu tidak berubah Boy, selalu mengaku-akui membawa misi sosial hehehe.”

“Kamu yang berubah sekarang Aci. Hehehe bercanda.”

“Ah sudah bercandanya, yuk kita kumpulkan jawaban dulu. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi di luar. Sudah stres nih kalau kelamaan di ruangan psikotes. Lelahhh hahahaha.”
“Siaplah kalau begitu Bu Gayatri.”

Usai mengumpulkan jawaban, kami pun menyempatkan waktu untuk berbincang sejenak sambil makan siang di kafe sebelah gedung. Berbagi nomor telpon dan alamat siapa tahu ada waktu untuk bermain nantinya. Kami berdua pun berjanji akan saling mengabari satu sama lain jika satu diantara kami lolos dan diterima di media massa bergengsi Ibukota ini. Bahkan secara nasional juga terbilang menjadi salah satu referensi tepercaya bagi masyarakat selama ini.

Tapi, aku pribadi masih bingung dengan keputusan Boy yang meninggalkan pekerjaannya di perusahaan bergengsi di Singapura. Atau kalau dia mau melamar kembali untuk bekerja di perusahaan asing di luar negeri tentu bukan hal yang sulit baginya. Entah itu di Amerika Serikat tempatnya menimbah ilmu bisnis di Harvard. Atau di di negeri Ratu Elizabeth tentu bukan hal yang sulit. Ditambah lagi, Boy merupakan lulusan terbaik disana dan mampu menempuh kuliahnya hanya dengan waktu 3 tahun. Luar biasa prestasi Boy selama kuliah di luar negeri.

Berbanding terbalik denganku yang kuliah di Universitas Surabaya dengan waktu yang melebihi waktu normal kuliah. Yakni 5 tahun hanya untuk mendapatkan gelar sarjanaku. Meskipun ada-ada saja alasan untuk pembenaranku, mengapa kuliah itu harus melebihi dari 4 tahun. Makin lama makin banyak ilmu yang kudapatkan di bangku kuliah dan di bangku-bangku diskusi lainnya. Konyol juga pikirku saat itu.

Dalam pertemuan yang singkat itu Boy juga menuturkan banyak sekali berkenalan dengan orang-orang Indonesia yang briliant ketika belajar di sana. Orang-orang yang tidak dihargai oleh pemerintahnya sendiri tapi begitu disanjung di negeri orang lain. Berlian-berlian yang disamakan saja dengan batu-batu kerikil lainnya yang berserakan di seluruh nusantara ini. Meski demikian Boy juga tak merendahkan aku yang kuliah di dalam negeri. Menurutnya, belajar di universitas luar negeri bukan jaminan seseorang untuk menjadi hebat. Banyak pula teman-temannya yang belajar di sana mengambil referensi bacaannya dari pemikir dan penulis dari Indonesia.

Penulis: Sasmito Madrim

 

Tags: novel GYTsasmito madrim
Tweet13Share21Share5Share
dewantara.id

dewantara.id

Related Posts

Suguhan Sekian Semesta dalam Dr.Strange: Multiverse of Madness

Suguhan Sekian Semesta dalam Dr.Strange: Multiverse of Madness

May 11, 2022
Review Serial Hitam: Zombi Masuk Desa

Review Serial Hitam: Zombi Masuk Desa

August 17, 2021
The Falcon and Winter Soldier: Sambutlah “Black Captain America” yang Humanis dan Politis

The Falcon and Winter Soldier: Sambutlah “Black Captain America” yang Humanis dan Politis

June 9, 2021
A Quiet Place II: Tegang dan Seru Selevel Jurassic Park Lost World dan I’m Legend

A Quiet Place II: Tegang dan Seru Selevel Jurassic Park Lost World dan I’m Legend

June 9, 2021
Ulas Serial ‘Girl From Nowhere: Season 1’: Setan Itu Hanya Menggoda

Ulas Serial ‘Girl From Nowhere: Season 1’: Setan Itu Hanya Menggoda

June 7, 2021
Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

Menyelami Masa Revolusi Indonesia lewat Idrus

April 18, 2020
Revolusi Indonesia Lewat Layar Lebar

Revolusi Indonesia Lewat Layar Lebar

April 15, 2020
Mentari di Raja Ampat: Wisata Terestrial Berbasis Konservasi

Mentari di Raja Ampat: Wisata Terestrial Berbasis Konservasi

January 24, 2020
Load More

Tentang Kami

Dewantara adalah situs informasi seputar kebudayaan khususnya lingkup pendidikan. Berisi artikel, berita, opini dan ulasan menarik lainnya. Dihuni oleh para penulis dan praktisi berpengalaman.

E-mail: jejaringdewantara@gmail.com
Yayasan Bintang Nusantara

Follow Us

Category

  • Advetorial
  • Dari Anda
  • Galeri
  • Garis Waktu
  • Internasional
  • Jejak
  • Jendela Dunia
  • Kabar
  • Kakiku
  • Komunitas
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
  • Praktisi
  • Profil
  • Sains
  • Seni Budaya
  • Siswa
  • Sosok
  • Tips
  • Uncategorized

Popular

  • SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    SMPN 5 Cilegon Serius untuk Jadi Sekolah Rujukan Google

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • “Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Masa Kurun Niaga”

    34 shares
    Share 14 Tweet 9

Recent News

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

Haul Akbar Syech Abdul Qodir Jailani di Link. Palas Berlangsung Semarak

October 6, 2025
LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

LP-NU dan LAZISNU Kolaborasi Gelar Bazar Murah Telur

August 31, 2025

© 2018 Dewantara.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Advetorial
  • Sosok
  • Jejak
  • Seni Budaya
  • Opini
  • Komunitas
  • Sains
  • Redaksi

© 2018 Dewantara.id

Go to mobile version